Berita Islami Masa Kini

10 Prediksi Tren E-Commerce di Asia Tenggara Pada Tahun 2016

0

Mengikuti jejak Cina dan Amerika Serikat, Asia Tenggara kini berada pada titik puncak dari zaman keemasan e-commerce. Dengan persentase belanjaonline yang hanya satu persen dari jumlah transaksi ritel saat ini, Asia Tenggara ditengarai akan mencapai pertumbuhan dua digit angka seperti Cina dalam empat sampai lima tahun ke depan.

Dengan populasi dua kali lipat dari Amerika Serikat yaitu sebesar enam ratus juta, Asia Tenggara siap untuk menjadi pasar ecommerce terbesar ketiga di dunia mengikuti Cina, India, dan pada akhirnya melewati AS.

Cukup dengan gambaran makro ini. Apa saja hal-hal yang telah dilewati di tahun 2015? Lalu, kejadian atau tren apa yang akan terjadi di dunia e-commerce pada tahun 2016 mendatang?

Magnus Ekbom Lazada

Magnus Ekbom kembali menjadi CEO Lazada

Kami, aCommerce, melihat pemain lokal, regional, dan global meningkatkan permainan mereka. Terutama di Indonesia denganpeluncuran MatahariMall secara besar-besaran sebagai jawaban nasionalis untuk Lazada dari Rocket Internet. Sebaliknya, Lazada bertaruh di Indonesia dengan kembalinya CEO terdahulu mereka, Magnus Ekbom.

Untuk pertama kalinya juga aCommerce Indonesia melampaui Thailand dalam jumlah order, dan baru-baru ini kompetitor Alibaba dari Cina, JD menyelinap ke Indonesia dan mengejutkan semua orang dengan peluncuran JD.id. Hal ini menambah jumlah tekanan dan daya saing di sektor B2C murni.

Tahun 2015 juga merupakan tahunnya M&A (merger dan akuisisi) seiring dengan bersatu atau diserapnya para pemain untuk mempersenjatai diri melawan para raksasa yang disebutkan di atas.

Screenshot Luxola

Pertama, WhatsNew yang didukung oleh Ardent Capital mengakuisisi situs gaya hidup vertikal Moxy di Thailand pada bulan Januari. Baru-baru ini, kami juga menyaksikan exit menakjubkan dari situs e-commerce kecantikan Luxola yang diakuisisi oleh brand mewah terkemuka asal Prancis, LVMH.

Kemudian pada bulan Desember, kami memberikan 20 persen saham ke sebuah distributor ritel Swiss yang sudah berusia 150 tahun. Tindakan yang kami lakukan ini memberikan akses ke lebih dari seratus brand barat dan infrastruktur fisik di wilayah Asia Tenggara.

Sayangnya, tahun ini tidak berakhir tanpa adanya korban karena tingginya persaingan pada sektor B2C e-commerce di Asia Tenggara. Pemain ritelfashion Paraplou Group menutup bisnisnya pada bulan Oktober setelah dua tahun dan setelah mendapatkan pendanaan sebesar $1,5 juta (sekitar Rp20,7 miliar) karena kurangnya fokus dan pengeluaran yang terlalu besar.

Kerja sama Trikomsel dan Singpost

Kerja sama Trikomsel dan SingPost pada Juni 2015 silam

Pada bulan Maret, SingPost dan distributor ponsel Indonesia, Trikomsel, mengumumkan kemitraan e-commerce yang misterius. Namun, tiga bulan kemudian muncul laporan tentang situasi keuangan yang mengenaskandari perusahaan telekomunikasi tersebut. Selain itu, terjadi juga kemunduran tiba-tiba Wolfgang Baier dari grup CEO SingPost di bulan Desember.

Jika 2014 adalah tahun suntikan modal seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya di bisnis e-commerce Asia Tenggara, maka 2015 adalah tahun di mana kami melihat kebangkitan awal, kejatuhan, dan transformasi total dari berbagai pemain dalam lanskap yang terfragmentasi seiring dengan usaha mereka bersaing untuk mendapatkan sepotong kue dari pai e-commerce yang berkembang pesat.

Sejalan dengan tradisi tahunan yang kami lakukan, artikel ini memberikan kamu intipan dari apa yang akan hadir di menu untuk tahun 2016. Kesimpulan ini kami tentukan melalui wawancara ekstensif dengan para investor dan eksekutif, serta data internal dan sumber sekunder dari Januari 2015 hingga Desember 2015.

Hadi Wenas

Hadi Wenas kini menjadi CEO MatahariMall sebelumnya memegang jabatan CEO di aCommerce

Karena kami merupakan penyedia layanan e-commerce di Asia Tenggara dengan klien-klien yang juga besar di wilayah ini seperti Lazada, MatahariMall, L’Oreal dan lainnya, maka kami memiliki kesempatan khusus untuk berdiri di persimpangan informasi teknologi, logistik, ritel,marketing, dan VC. Kami melihat di mana mitra kami menempatkan uang dan di mana investor bersedia mengikuti.

Dengan demikian, kami bisa melihat dengan tajam ke arah mana pertumbuhan akan terjadi. Tidak ada bola kristal atau firasat di sini. Kami hanya berkesempatan mendapatkan pandangan luas yang tidak dimiliki oleh sebagian besar pemain yang lain dan kami menyediakan proyeksi tersebut di sini dalam bentuk prediksi.

1. Brand.com siap untuk menjadi tren baru

Evolusi e-commerce umumnya mengikuti lintasan P2P, C2C ,B2C hingga pada akhirnya menjadi Brand.com. Amerika Serikat berproses dari Craigslist, eBay, dan Amazon kemudian ke situs brand seperti Nike, J.Crew, dan Gap. Cina bermula dari Taobao, Tmall, dan JD kemudian ke banyak situs brand mandiri dan situs brand marketplace seperti Estee Lauder, Burberry, dan Coach.

Asia Tenggara saat ini mengikuti pola yang sama, namun pada kecepatan yang lebih cepat karena formula 1 to n, kemajuan horizontal, dan perilaku lompatan yang dihasilkan. Di wilayah ini, kami memiliki model bisnis P2P (OLX), C2C (Rakuten, Tokopedia, dan Shopee), B2C (Lazada, Zalora, dan MatahariMall), dan Brand.com (L’Oreal, Estee Lauder) yang semua terjadi sekaligus bersamaan dalam waktu yang sangat singkat.

Estee Lauder

Meskipun belum tersedia di Indonesia, namun Estee Lauder sudah memiliki e-commerce sendiri

Bahkan Unilever di Thailand telah menciptakan divisi e-commerce dengan target pendapatan yang diharapkan bisa mulai tercapai pada 2016. Kami melihat brand akan beralih ke platform online jauh lebih awal daripada yang biasanya diharapkan.

Maka dari itu tidak mengherankan jika aCommerce baru saja mendapatkan investasi strategis dari distributor ritel terbesar di Asia, DKSH. Berbasis di Swiss, DKSH memiliki hak distribusi untuk beberapa brand terbesar di kawasan ini, seperti P&G, Unilever, dan Johnson & Johnson.

Kerjasama ini memvalidasi tumbuhnya permintaan akan brand e-commercedi kawasan ini, dan selanjutnya akan mempercepat proses di mana brandakan beralih online. Entah itu di situs brand sendiri atau di berbagaimarketplace Asia Tenggara.

2. Kebangkitan omnichannel: “Tidak akan ada lagi e-commerce, hanya akan ada commerce

Ini adalah ucapan grup CEO aCommerce, Paul Srivorakul, saat pemain logistik e-commerce SingPost mengumumkan akan membuat mal futuristikyang mengkombinasikan belanja secara online dan offline demi mengejar mimpi ritel omnichannel (sistem jual beli yang memungkinkan konsumen melakukan transaksi dengan berbagai cara), mimpi yang dengan cepat menjadi kenyataan di AS dan Cina.

Mengacu pada pengalaman belanja yang mulus di toko danchannel online, omni channel dianggap sebagai Cawan Suci dalam ritel yang sulit dipahami. Hal tersebut menjadi sulit dipahami karena tantangan politik dan logistik dalam mengintegrasikan jalur-jalur online yang seringnya independen dengan rekanan brick and mortar (konvensional)  mereka. Namun sejauh ini, Asia Tenggara cukup tertinggal karena lebih terfokus untuk membangun pemain-pemain e-commerce murni terlebih dahulu.

eLocker MatahariMall

Sumber gambar: Tech Crunch

Pada tahun 2016, kami berharap untuk melihat gerakan yang serius di wilayah ini dari pemain offline yang bergerak online, dan sebaliknya. 2016 akan menjadi tahun di mana brand offline akan pergi online karena menjamurnya kehadiran marketplace online, serta adanya layanan lengkap dari penyedia jasa e-commerce.

Bagi pemain B2C, daya tarik dari menambahkan operasi offline termasuk strategi pemenuhan dan pengiriman yang lebih cepat. Di Asia Tenggara, peretail elektronik Vietnam Nguyen Kim, yang telah diakuisisi oleh Central Group, mampu melakukan pengiriman dalam empat jam pada hari yang sama karena besarnya jejak retail offline yang mereka miliki.

Pemain e-commerce dengan lengan offline tradisional seperti MatahariMall, Cdiscount, dan Central juga akan berada dalam posisi yang menguntungkan untuk mengeksekusi strategi ini. Namun, pada tahun 2016 kita juga akan melihat pemain murni B2C yang meneliti strategi ini seiring dengan meningkatnya tantangan logistik dan last mile di Asia Tenggara dengan bottleneck kapasitas di seluruh industri.

3. Model niche commerce akan berkembang untuk menghindaribloodbath B2C

Dalam prediksi kami tahun 2015, kami membahas bahwa B2C e-commerceadalah pertandingan jangka panjang, cash intensive, dan permainan winner takes all. Perusahaan-perusahaan yang berusaha untuk bersaing di ruang ini lebih baik memiliki kantong yang tebal seperti Lazada, MatahariMall, dan JD, atau siap menghadapi kepunahan seperti Paraplou Group.

Dalam esainya yang berjudul E-Commerce is a Bear, Andy Dunn, pendiri dan ketua Bonobos.com, menguraikan tentang mengapa B2C e-commerceadalah sebuah permainan di mana winner takes all dan pilihan apa saja tersisa untuk pemain lain yang tidak memiliki kantong tebal atau penyokong dana.

Banyak dari hal ini datang dari pendekatan e-commerce versi Peter Thiel, David vs Goliath yang bertolak belakang. Industri e-commerce AS telah didominasi cukup lama oleh Amazon untuk menyaksikan beberapa modelini mulai membuahkan hasil dalam beberapa tahun terakhir:

  1. Proprietary Pricing / Harga eksklusif (flash sale seperti Gilt Groupe)
  2. Proprietary Selection / Pilihan eksklusif (ModCloth, NastyGal)
  3. Proprietary Experience / Pengalaman eksklusif (Rent the Runway, Birchbox)
  4. Proprietary Merchandise / Barang-barang eksklusif (Warby Parker, Bonobo)

Tahun ini akan menjadi tahun di mana model e-commerce yang lebih kreatif bermunculan. Perusahaan seperti Pomelo dan Sale Stock Indonesia telah mengadopsi pendekatan merchandise eksklusif untuk mencapai keunggulan kompetitif. Mereka melakukan ini dengan merancang busana mereka sendiri dan secara bertahap bergerak ke hulu untuk menyertakan manufaktur.

Moxy telah memancangkan bendera sebagai toko serba ada yang fokus pada kaum perempuan. Kita mungkin juga akan melihat kembalinya model bisnis subscription commerce dari peretail seperti Central yang disebabkan oleh menurunnya pembeli asing, serta dengan serius mempertimbangkan model penjualan kilat ala Gilt untuk menyingkirkan kelebihan persediaan.

4. E-commerce cross border akan didorong dengan Silk Road 2.0, bukan MEA

Terlepas dari sensasi di media dan harapan-harapan yang tinggi termasuk prediksi kami tahun lalu, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap e-commerce pada tahun 2016.

Pemerintah terlalu terfragmentasi dengan kebijakan. Ditambah dengan pertumbuhan peluang yang cepat dalam pasar domestik, sehingga tidak masuk akal untuk fokus pada cross-border dalam ASEAN. Hal ini sebagaimana dibuktikan oleh perusahaan seperti Lazada dan MatahariMall yang bertaruh pada peluang e-commerce Indonesia.

Screenshot JD Indonesia

JD.id berperan dalam pembentukan jalur sutera

E-commerce cross broder pada tahun 2016 akan didorong terutama oleh apa yang kami sebut sebagai Silk Road 2.0. Ini adalah sebutan bagi para perusahaan berbasis di Cina yang akan membawa produk-produk mereka ke Asia Tenggara. Sehingga, membangun fondasi untuk jalur sutra versi generasi kita dan mencoba untuk memperluas soft power dan hegemoni Cina melalui industri perdagangan dan digital.

JD dari Cina adalah contoh klasik. Toko online nomor dua di Cina ini baru saja beroperasi di Indonesia dan diharapkan untuk memanfaatkan lebih dari empat puluh juta SKU dari bermacam-macam produk dan rantai pasokan Cina dan Asia Tenggara untuk bersaing dengan pemain-pemain lain seperti MatahariMall dan Lazada. Alibaba juga berinvestasi hampir $500 juta (sekitar Rp6,9 triliun) ke SingPost untuk membersihkan jalan bagi paket Alibaba, Tmall dan Taobao agar lancar memasuki Asia Tenggara.

5. Pembayaran COD akan melanjutkan dominasinya, sementara pembayaran pihak ketiga masih berjuang

Kesempatan besar selanjutnya di industri ecommerce Asia Tenggara adalah jasa pembayaran online dari pihak ketiga. AS memiliki PayPal dan Cina memiliki Alipay. Lalu, apa yang dimiliki Asia Tenggara?

Kebalikan dari apa yang dipercaya banyak orang, membangun produk pembayaran yang sukses bukanlah tentang teknologi, namun tentang distribusi. Teknologi pembayaran adalah sebuah komoditas. Semua orang membangun hal yang sama, termasuk bank (SCB UP2ME), perusahaan telekomunikasi (TrueMoney, PAYSBUY), media (Line Pay, AirPay dari Garena), peretail (helloPay oleh Lazada), dan startup yang fokus pada pembayaran (2C2P, omise).

Cash on Delivery

Metode COD masih dinilai yang paling aman dan nyaman di Indonesia

Bagian yang sulit adalah distribusi. Bagaimana caranya mencapai jumlah minimum hingga jaringan ini bisa memiliki efek? Sampai ini terjadi, COD akan tetap menjadi metode pembayaran yang dominan di Asia Tenggara.

Berdasarkan angka agregat terbaru dari aCommerce, metode pembayaran COD mencapai 74 persen dari keseluruhan transaksi di Asia Tenggara. Angka ini naik dari 53 persen di tahun sebelumnya. Peningkatan ini memvalidasi pentingnya COD untuk e-commerce di wilayah kita, dan sudah melebihi tingkat penetrasi COD pada puncak popularitasnya di Cina pada tahun 2008 lalu.

Pada akhirnya, COD secara alami akan melewati masa popularitasnya dan digantikan oleh produk pembayaran pihak ketiga yang lebih modern. Bahkan, skenario yang paling mungkin terjadi nanti adalah hanya terdapat satu produk pembayaran terkemuka pada setiap negara di Asia Tenggara karena sifat wilayahnya yang terfragmentasi.

Sampai saat itu tiba, selamat berusaha membunuh cash on delivery kepada CPO Redmart, Jon Sugihara.

6. Kegagalan dari fast fashion e-tailers

Kita akan melihat banyak pemain-pemain mass dan fast fashion seperti Zalora mengalami kesulitan entah gagal atau nantinya akan bergabung dengan sepupunya Lazada. Orang-orang yang familiar dengan sejarah e-commerce di Cina akan melihat kesamaan antara Zalora dan VANCL.

VANCL, mono brand ritel fast fashion ini didirikan oleh Chen Nian, yang pernah menjual bisnis sebelumnya, Joyo, ke Amazon. VANCL kemudian menjadi terkenal pada tahun 2009, mendapatkan pendanaan hingga $570 juta (sekitar Rp7,8 triliun), dan bahkan merencanakan untuk IPO. Namun, VANCL kemudian secara bertahap memudar. Menjual label fashion sendiri adalah sedikit tentang ekonomi ritel dan lebih banyak tentang membangunbrand.

Zalora Indonesia

Selain itu, VANCL juga menderita dari persaingan para penjual di Taobao yang menjual produk serupa dengan kualitas yang lebih tinggi dan harga yang lebih rendah. Cobalah mengganti Taobao dengan Instagram dan Facebook  di Asia Tenggara, maka kamu akan mengerti kesulitan yang Zalora dan peretail mono brand fashion yang lainnya alami.

Mengikuti perkembangan alami dari e-commerce, fashion akan mulai menjadi kategori yang lebih populer bagi para pembeli online terutama dengan munculnya konsumen perempuan yang lebih kaya di Asia Tenggara.

Brand fashion saat ini memiliki pilihan untuk berjualan di banyakmarketplace Asia Tenggara dan/atau berjualan melalui situs mereka sendiri. Kami mengharapkan mereka mendirikan toko di situs mereka sendiri ataumarketplace khusus yang fashion friendly.

Namun demikian, brand fashion premium mungkin ragu-ragu untuk menghadirkan produknya di marketplace seperti Lazada dan Rakuten karena memiliki risiko dianggap sebagai brand massal. Setelah bertahun-tahun mendekati brand fashion dan barang mewah, Amazon tetap masih berjuang. Jangan lupa, kebanyakan dari penjualan fashion premium Amazon saat ini dihasilkan melalui Shopbop, satu-satunya perusahaan eksklusif fashion yang diakuisisi Amazon pada tahun 2006.

7. Jalur baru akan muncul untuk menantang sisi gelap Google dan Facebook

Ketika kamu menggali emas di sisa-sisa pergerakan e-commerce, pastikan kamu menggunakan cukit dan sekop terbaik yang pernah ada. Sayangnya untuk pemain e-commerce di pasar kita, pilihan senjata yang tersedia sangatlah terbatas karena faktor sejarah dan sosial ekonomi yang unik di Asia Tenggara. Munculnya lanskap no tail dalam hal penerbit sangat menghambat efektivitas alat tradisional, seperti marketing afiliasi dan tampilan programmatic.

Iklan Programmatic

Di Asia Tenggara, para pemain sudah mati-matian menggunakan saluran tradisional, seperti Google Search, Facebook, dan Criteo. Hasilnya, CPC (cost per click) naik ke hasil tertinggi dan para perusahaan memanfaatkanmarketing offline untuk mencari hasil yang lebih baik. Hasil ini merupakan efek penuh Law of Shitty Clickthroughs milik Andrew Chen.

Perusahaan dan pengusaha cerdas akan mulai menangani kesenjangan ini dengan merancang dan membangun platform generasi baru untuk menawarkan alternatif dari Google dan Facebook di luar sana.

Bersiaplah untuk melihat lebih banyak perusahaan ecommerce menambahkan jalur seperti perbandingan harga, situs kupon, situs cash back, serta solusi marketing afiliasi inovatif untuk menyeimbangkan campuran media mereka. Tahun 2016 akan memberi kita ekskavator dan buldoser untuk melengkapi cukit dan sekop saat ini.

8. Pertempuran untuk distribusi barang berlanjut seiring kegagalan logistik pihak ketiga untuk beradaptasi

Di tahun 2016, kita akan melihat perusahaan seperti Lazada (LEX), MatahariMall, dan aCommerce berinvestasi dalam membangun armada pengiriman sendiri. Hal ini mereka lakukan untuk membantu meringankan masalah kapasitas di seluruh industri dan juga mengantisipasi meledaknya volume transaksi. Tekanan hanya akan menjadi lebih besar pada tahun 2016 bersamaan dengan volume transaksi yang diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi di Asia Tenggara.

Tantangan distribusi barang di Asia Tenggara jika tidak ditangani dengan benar akan menjadi hambatan terbesar untuk pertumbuhan e-commerce di kawasan ini. Industri e-commerce tengah menyaksikan kemacetan kapasitas industri lebih dari yang perusahaan-perusahaan seperti JNE, Kerry Logistics, DHL, dan logistik lain di dunia ini yang mampu tangani.

Lazada Express

Sebagian dari masalah ini adalah berawal dari infrastruktur yang buruk. Cina, pasar e-commerce terbesar di dunia, tidak pernah benar-benar memiliki masalah ini karena pola pikir pemerintah mereka yang sosialis dan terpusat sehingga memprioritaskan investasi infrastruktur. Pada saate-commerce terjadi, infrastruktur sudah ada di sana yang mengakibatkan pengiriman last mile menjadi layanan utama.

Begitu juga dengan banyaknya perusahaan logistik yang telah ada, namun sejak awal tidak dirancang untuk melayani pengiriman B2C. Kompetensi inti mereka terletak pada pengiriman B2B yang biasanya tidak menghadapi masalah yang kerap muncul di pengiriman B2C seperti return management,reverse logistics, pre calling, upaya pengiriman berulang kali, dan cash on delivery.

9. Manajemen channel akan menjadi programmatic yang baru, sementara agensi iklan masih terjebak di tahun 2011

Selama bertahun-tahun, para eksekutif sales dari pengiklan brand, agensi, dan adtech menyambut hangat tampilan iklan programmatic (terprogram secara oo dan demand side platform (DSP) untuk menjadi masa depan pemasaran digital. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berada cukup lama di luar kepercayaan mereka di Singapura untuk menyadari bahwa no tail pada dasarnya telah membunuh potensi iklan programmatic di Asia Tenggara selain Singapura dan Malaysia.

Peluang programmatic Asia Tenggara sesungguhnya akan berada di e-commerce, bukan dalam iklan display. Dengan kehadiran dan fragmentasimarketplace online, tantangan bagi para brand adalah memilih saluran mana yang tepat untuk suatu produk dan apa yang harus didorong ke dalam masing-masing kanal ini.

Tahun 2016 akan melihat kemunculan dan adopsi generasi selanjutnya atas manajemen channel yang pada dasarnya adalah e-commerce DSP. Produk-produk ini akan membantu brand membentuk omni channel ritel di semua marketplace ternama.

Di saat yang bersamaan, DSP juga menawarkan manfaat programmatictradisional seperti mesin optimalisasi dinamis dan integrasi plug and playdengan berbagai sumber data pihak pertama dan ketiga untuk penargetan, personalisasi, dan optimalisasi yang lebih baik.

10. Perang talenta akan meningkatkan gaji lebih cepat daripada peningkatan valuasi UBER

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh semua pemain ecommerce di Asia Tenggara adalah kurangnya talenta. Pada tahun 2015, merupakan hal yang biasa untuk melihat karyawan direbut dari kanan dan kiri dengan gaji baru yang meningkat satu setengah hingga tiga kali lipat. Tentu saja hal ini tidak dapat terus dipertahankan, namun inilah situasi yang sedang terjadi dalam perang talenta di Asia Tenggara.

Para kaum profesional yang oportunis dan umumnya masih muda, melompat ke peran-peran di mana keahlian, pengalaman dan kepemimpinan mereka tidak cocok dengan jenis pekerjaan dan jabatannya. Seperti yang dikatakan oleh Auren Hoffman, mantan CEO LiveRamp yang telah mendirikan menjual lima perusahaan.

Hal yang paling penting untuk dioptimalkan dalam pekerjaan pertama kamu adalah pertumbuhan. Pertumbuhan adalah raja, ratu, dan kaisar yang digabungkan. Optimalkan pertumbuhan di atas kompensasi, di atas lokasi, di atas gaya hidup, dan di atas segalanya.

Perusahaan e-commerce perlu memahami bahwa meskipun kita semua berada di tengah-tengah ladang emas, perang talenta ini adalah permainan jangka panjang. Untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik, akan semakin banyak perusahaan e-commerce yang fokus membangun budaya dan lingkungan kerja yang menarik bagi karyawan.

Emquartier Bangkok aCommerce

Sumber gambar: Tech Crunch

aCommerce pada tahun 2016 akan merelokasi kantor pusatnya ke e-commerce valley ala Bangkok, Emquartier, yang juga rumah bagi kantor pusat regional Lazada ini.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.