Home >> Senggang >> 5 Teknologi yang Sedang Dikembangkan NASA untuk Berangkat Ke Mars

5 Teknologi yang Sedang Dikembangkan NASA untuk Berangkat Ke Mars

Sudah nonton film The Martian? Dalam film keren yang mendapatkan ratingtinggi ini, dikisahkan manusia sudah bisa hidup menjelajah di Mars. Namun, bagaimana dengan kenyataannya? Ternyata, NASA memang sedang mengembangkan beberapa teknologi untuk ke Mars! Berikut adalah lima teknologi canggih yang membantu kita pergi ke sana.

Roket-roket raksasa

Space Shuttle NASA memang sudah tidak beroperasi dan dipensiunkan tahun 2011 lalu. Namun, penggantinya akan segera diluncurkan pada tahun 2018. Roket ini disebut sebagai Space Launch System (SLS). Saat diluncurkan nanti, roket ini mampu membawa 70 metrik ton perlengkapan ke orbit.

Untuk membawa beban sebesar itu, tentu kendaraannya harus berukuran besar pula. Tak tanggung-tanggung, NASA menjadikan pesawat ini sebagai kendaraan terbesar yang pernah dibuat manusia dengan tinggi 116 m atau hampir sama dengan tinggi Monas (137 m)!

Setelah mencapai orbit, roket ini bisa diisi ulang dengan bantuan wahana lainnya, dan mampu mengangkat beban hingga 130 metrik ton serta mengantar kita ke Mars.

Tenaga pendorong bertenaga surya

Meski memiliki kemampuan untuk mengangkat roket seberat 70 metrik ton ke angkasa, penggunaan hidrogen dan oksigen cair sebagai bahan bakar seperti yang selama ini digunakan NASA rasanya akan kurang efisien. Apalagi untuk perjalanan jauh ke Mars. Bukan itu saja, tangki yang dibutuhkan untuk membawanya juga besar dan merepotkan. Sebagai alternatifnya, NASA memutuskan untuk menggunakan tenaga surya.

Teknologi yang disebut Solar Electric Propulsion (SEP) akan mendorong pesawat dengan melepaskan ion ke belakang dengan bantuan elektron dan gas xenon. Elektron yang didapat dari tenaga surya akan mengubah gas xenon ke bentuk plasma, yang kemudian dilepaskan dengan kecepatan tinggi.

Berbeda dengan tenaga bahan bakar yang mampu memberikan dorongan dengan akselerasi tinggi, kecepatan SEP bertambah perlahan-lahan karena proses pengubahan bentuk dari tenaga surya ke dorongan ion tidak sebentar. Namun, seiring berjalannya waktu, kecepatannya bisa mencapai maksimal 321.000 km/jam!

Teknologi SEP sendiri saat ini sudah ada, namun dorongannya masih belum cukup kuat untuk membawa beban sebesar yang ditargetkan.

Deep Space Habitat

Setelah sampai di Mars, hal yang juga mesti dipikirkan tentunya adalah tempat tinggal para penjelajah selama di sana. Untuk itu, NASA mengembangkan teknologi yang disebut sebagai Deep Space Habitat.

Teknologi ini berbentuk ruangan-ruangan yang dikirimkan secara terpisah (modular), untuk kemudian diturunkan dan dirakit satu persatu di Mars. Habitat buatan ini bisa menampung hingga maksimal 4 orang, dengan lama tinggal 60 hingga 500 hari.

Deep Space Habitat ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian terbesar adalah modul peralatan, yang bisa mencakup 22 persen dari luas pesawat. Di bagian dalamnya terdapat mesin panel kontrol, mesin navigasi, mesin komunikasi, dan lainnya. Bagian terbesar kedua adalah ruangan misi dan operasi, tempat para staf melakukan misinya seperti penelitian atau perbaikan peralatan.

Sementara bagian sisanya adalah ruangan untuk aktivitas grup dan aktivitas pribadi, termasuk kamar tidur, kamar mandi, dan ruang pribadi. Selain digunakan untuk ke Mars, teknologi ini juga akan direncanakan untuk dipakai menjelajah asteroid yang berada tak jauh dari Bumi.

Pakaian ruang angkasa yang tipis dan fleksibel

Selama di Mars, para astronot tentunya tidak hanya diam duduk di Habitat, melainkan juga berjalan-jalan ke luar dan menjelajah sang planet merah untuk mencari dan mengambil data. Namun sayangnya, kondisi di Mars tidak bersahabat. Karena itu para astronot membutuhkan pakaian yang tidak hanya kuat, tapi juga fleksibel.

Pakaian ruang angkasa yang kita miliki saat ini masih dianggap terlalu besar dan tidak praktis, menyulitkan astronot saat bergerak khususnya pada bagian tangan. Pakaian astronot masa depan terbuat dari bahan yang tipis namun kuat menahan radiasi dari Mars.

Pakaian ini juga terintegrasi dengan teknologi augmented reality dan bio-monitor untuk memudahkan astronot saat bergerak. Canggihnya lagi, pakaian ini dirancang untuk dibuat menggunakan self-healing material, yang berarti pakaian tersebut bisa menyambung sendiri seandainya tergores, seperti layaknya kulit manusia!

Komunikasi via laser

Karena jaraknya yang hampir mencapai 55 juta kilometer (bagi yang tidak terbayang, jarak ini sekitar 400 juta kali perjalanan bolak-balik Jakarta-Bandung), koneksi internet di Mars pun sangat terbatas. Padahal ini diperlukan untuk keperluan komunikasi.

Saat ini, robot-robot NASA di Mars mampu mengirim dan menerima data dengan kecepatan 250 kbps, yang berarti masih lebih lambat dibanding kecepatan internet di Indonesia.

Dengan kecepatan seperti ini, untuk bermain game online semacam DOTApun tidak tenang karena heronya susah digerakkan. Begitu pula dengan NASA yang kesulitan menggerakan robot-robotnya untuk tindakan yang membutuhkan respon cepat. Karena itu, mereka bertekad meningkatkan kecepatan koneksi di Mars hingga 1 Gbps. Solusinya? Menggunakan laser.

Pengujian komunikasi via laser sudah pada tahun 2013 dalam programLunar Atmosphere and Dust Environment Explorer (LADEE). Hasilnya, kecepatan unggah maupun unduh baru mencapai 77Mbps. Ini tentu masih jauh dari target yang diharapkan, namun NASA sedang mengarah ke sana.[tia]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

7 Permainan ‘Jadul’ yang Bisa Senangkan Anak

Sebenarnya, keterlibatan teknologi tak selalu perlu dalam kegiatan bermain anak. Berikut daftar ...