Home >> Nasional >> Afrizal Sinaro: Membangun Budaya Baca Umat Islam Melalui IBF

Afrizal Sinaro: Membangun Budaya Baca Umat Islam Melalui IBF

Kualitas intelektual umat Islam Indonesia dipandang masih tertinggal dibanding negara-negara lainnya. Karena itu, semua pihak harus terus berupaya membangun budaya baca masyakarat, khususnya umat Islam.

Salah satu upaya yang telah dijalankan saat ini, yaitu pameran tahunan Islamic Book Fair (IBF) yang disajikan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta.

“Ini suatu gerakan pengembangan minat dan budaya baca, bagi umat Islam khususnya, yang sebenarnya ini menjadi tanggung jawab bersama,” kata Ketua Ikapi Jakarta, Evi Afrizal Sinaro. Berikut wawancara lengkapnya bersamaRepublika, Selasa (16/2).

Apa makna penting tema Indahnya Keluarga Qurani di IBF 2016 kali ini?

Kita melihat keluarga ini menjadi titik sentral untuk pendidikan agama, khususnya dengan Alquran. Nah, kami berkeyakinan kalau setiap keluarga sudah menerapkan pendidikan yang benar dengan Alquran yang benar, insya Allah dalam keluarga tersebut akan tercipta masyarakat yang baik. Kalau sudah terwujud masyarakat yang baik, insya Allah negara dan umat ini juga akan baik.

Jadi, ini sangat mendasar. Kita tidak akan berbicara setinggi langit kalau keluarga kita belum benar. Terilham dari gagasan itulah, kita ingin mencoba mengangkat tema Indahnya Keluarga Qurani ini.

Selama 15 tahun perjalanan IBF, apa sumbangsih nyata bagi masyarakat?

Pertama, yang jelas berawal dari perkumpulan para penerbit buku Islam pada 15 tahun yang lalu, di mana saat itu perindustrian penerbit buku Islam bisa dihitung dengan jari. Perbukuan Islam saat itu sedikit sekali.

Dengan dimulainya Islamic Book Fair (IBF) secara pelan tapi pasti,alhamdulillah sekarang perkembangan industri perbukuan Islam menjadi lebih baik.

Ikapi DKI Jakarta melalui penerbit buku agama Islam saat ini telah menjadi kelompok buku-buku terbanyak di Jakarta. Dengan demikian, IBF ini telah menjadi inspirasi dan bisa menjadi motivasi penerbit untuk lebih banyak menerbitkan buku-buku Islam.

Kedua, IBF tentu telah membantu mengembangkan minat dan budaya baca masyarakat, khususnya umat Islam. Pameran ini bukan hanya sekadar para penerbit memamerkan bukunya, melainkan juga bisa menyelenggarakan ratusan mata acara dalam bentuk talk show dan bedah buku.

Nah, ini juga sangat membantu bagaimana anak-anak sekolah dan santri-santri di pesantren kita itu senang dan akhirnya suka membaca buku.

Jadi, ini suatu gerakan pengembangan minat dan budaya baca bagi umat Islam khususnya, yang sebenarnya ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, masyarakat, maupun kita pelaku industri penerbit buku.

Jadi, ini terbukti sekali. Setiap kita pameran, ratusan ribu anak-anak dari pesantren berbondong-bondong datang ke pameran kita ini. Nah, itulah manfaat yang dirasakan langsung. Dan tentu kita ingin melalui event pameran ini, masyarakat cerdas berilmu dan cerdas beriman.

Apa latar belakang munculnya Islamic Book Fair?

Karena timbul rasa keprihatinan sebenarnya bahwa Indonesia ini merupakan negara umat Islam terbesar di dunia. Tetapi, dari sisi kualitas, umat Islam jauh tertinggal. Kira-kira seperti itu. Salah satu upaya kita, yaitu harus mencerdaskan umat ini melalui buku.

Nah, saat itu belum ada pemeran buku Islam di Indonesia, yang ada dulu hanya pameran buku umum. Sementara, pameran yang khusus buku Islam belum ada. Dari situ kita ingin ada pameran khusus, yang khas, dan dari situ ruh Islam terasa. Nah, di situlah awalnya.

Saat itu kita juga menginginkan semua komponen umat Islam, semua ormas, penerbit, dan apa pun aliran pemahamannya, bisa berkumpul bersama di event ini. Dari gagasan itulah kita mulai memikirkan adanya pameran buku Islam dan ternyata kitalah satu-satunya yang ada sejak 15 tahun lalu itu.

Tidak terasa, event yang dirintis kelompok penerbit buku Islam ini sekarang sudah menjadi penggerak peradaban. IBF kini sudah menjadi milik umat. Sebagai pameran buku Islam terbesar dan terlengkap di ASEAN, IBF tidak hanya sekadar tempat memamerkan buku.

Namun, panggung acara yang disiapkan panitia sudah menjadi tempat berkumpulnya insan-insan perbukuan Islam, mulai dari penulis, editor, ilustrator, penerbit, toko buku, hingga pedagang buku dalam dan luar negeri.

Tidak hanya itu, panggung IBF juga bisa dijadikan tempat bertemunya semua komponen, baik penggerak komunitas, tokoh, maupun ulama dalam berbagai kegiatan, seperti bedah buku, tabligh akbar, diskusi, dan seminar seputar dunia Islam.

Di event IBF ini kita dapat merasakan suasana ukhuwah Islamiyah karena semua kelompok pemahaman atau aliran dapat duduk bersama demi syiar dan dakwah melalui buku.

Ini semua bisa terjadi tentu karena izin dari Allah SWT dan dukungan semua pihak, khususnya Republika sebagai media partner sejak awal IBF, yang tidak pernah berhenti untuk membantu menyosialisasikan event ini kepada masyarakat umum.

Semoga Allah SWT memberkahi usaha dan pengabdian kita demi tercapainya umat Islam yang cerdas berilmu, cerdas beriman.

Apa tantangan penerbitan buku Islam ke depan?

Tantangan kita tentu dari tahun ke tahun semakin berat. Pertama, kalau dari sisi penerbit minat dan budaya baca masyarakat kita ini perlu ditumbuhkan terus. Kedua, daya beli masyarakat terhadap buku-buku harus terus ditumbuhkan karena sekarang ini buku belumlah menjadi suatu kebutuhan pokok oleh masyarakat kita.

Di samping itu, masih terkait persoalan biaya, terutama sekali biaya untuk produksi dan untuk distribusi yang masih cukup besar. Kalau ini memang hanya menjadi tanggung jawab penerbit itu akan berat. Saatnya sekarang saya rasa pemerintah harus berpikir. Pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap industri perbukuan ini.

Selama ini kita belum pernah disentuh secara maksimal oleh pemerintah, sedangkan biaya untuk pameran ini juga sangat besar. Apalagi, kita menyewa gedung Istora Senayan dan segala macamnya dan itu luar biasa. Seandainya itu hanya ditanggung penerbit, berat sekali tentunya.

Jadi, kita sangat berharap pemerintah ke depannya sudah harus mengalokasikan dana khusus untuk membantu penyelenggaraan pameran ini sehingga bisa lebih baik untuk tahun-tahun berikutnya.

Kemudian, salah satu tantangannya lagi adalah datangnya era online. Tetapi, itu tidak membuat kami surut semangat. Justru ini bisa menjadi tantangan yang akan membuat kita bisa lebih kreatif. Karena, bagi kami, buku tidak akan tergantikan. Adanya e-book atau gadget itu hanya melengkapi.

Perbedaan buku online dan cetak itu, pertama, bagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan buku, kenikmatan membaca buku cetak tidak bisa dibandingkan dengan membaca buku di e-book, laptop, dan segala macamnya. Karena, itu akan membuat mata kita lelah.

Kedua, buku kan bisa dibaca di mana saja, sedangkan yang online masih membutuhkan kuota internet atau pulsa. Itu sangat berpengaruh, kecuali bagi orang yang hidup perkotaan. Karena itu, kita harus berpikir secara nasional. Pasalnya, masyarakat di daerah juga belum sempurna untuk menikmati online.

Bagaimana rencana IBF di daerah-daerah?

Sebenarnya ini juga menjadi rencana kita karena kita menginginkan pameran ini tidak hanya bisa dinikmati masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Masyarakat di daerah juga menginginkan hal yang sama sebenarnya, tapi sekali lagi, kami terbentur dari segi pembiayaan. Katakanlah kita harus pergi ke Aceh, Medan, dan sebagainya. Itu kan biayanya pasti besar.

Sementara, fasilitas atau bantuan dari pemerintah itu tidak ada. Itulah yang membuat teman-teman penerbit agak kesulitan. Kalau seandainya ini bisa disinergikan, baik melalui Departemen Agama, Kanwil Agama di daerah atau pemda, saya kira ini suatu saat bisa terwujud dan setiap provinsi bisa menyelenggarakan IBF.

Jelang IBF apa harapan kepada masyarakat, khususnya umat Islam?

Ini adalah kesempatan baik buat masyarakat untuk mendapatkan buku-buku terbaik dan buku terbaru. Dan event ini akan berlangsung mulai dari 26 Februari sampai 6 Maret nanti. Selain itu, kelebihan dari IBF kali ini juga ada banyak diskon yang disediakan para penerbit. Ada yang 30 persen, 40 persen, dan 50 persen.

Untuk teman-teman yang mengelola perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah,  kampus, atau perpustakaan masjid, bisa mendapatkan buku di IBF dengan harga-harga yang luar biasa. Dan pilihannya sangat banyak karena akan hadir sekitar 400 lebih penerbit untuk tahun ini.[rol]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Panglima TNI Yakin Tak Ada Upaya Kudeta, Lain Lagi Kata Pulisi…

Trenmuslim.web.id– Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, hingga saat ini proses penyidikan ...