Home >> Dakwah >> Allah Tahu Seberapa Keras Kita Menjaga Diri

Allah Tahu Seberapa Keras Kita Menjaga Diri

Oleh Hafidz Muftisany

Sulaiman bin Yasar adalah salah satu pemuka tabiin di Madinah. Ia adalah lelaki ahli fikih nan rendah hati. Sulaiman adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Selain itu ia digambarkan sebagai sosok yang amat tampan.

Sulaiman pun menemui ujiannya. Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah mengisahkan tentang fitnah yang pernah menimpa Sulaiman.

Suatu kali ia pergi ke pasar. Kemudian ia dipanggil seorang wanita yang amat cantik. “Kemarilah wahai Sulaiman,” ujar wanita itu. Lalu wanita itu mulai merayunya.

Sulaiman hanya berdiri mematung sembari menangis dengan kuat. Setiap kali wanita itu mendekatinya, Sulaiman terus mundur sambil menangis dengan kuat. Wanita itupun terkaget dan mencoba mendekati lagi Sulaiman. Ia kembali mundur dan semakin menjadi-jadi tangisnya.

Melihat reaksi Sulaiman itu, sang wanita pun akhirnya pergi meninggalkannya. Melihat Sulaiman terduduk dan menangis, temannya lantas menghampiri. “Apa yang engkau tangisi wahai Sulaiman?” tanyanya. Sulaiman menjawab, “Aku menangis karena kesedihanku terhadap diriku sendiri.”

Demi membaca kisah itu kita patut bertanya, apa yang akan kita perbuat seandainya kita berada di posisi Sulaiman? Rasanya ujian seperti itu amat mudah kita temui hari ini.

Godaan untuk berbuat maksiat seolah berjajar rapi, mengantri untuk disambangi satu per satu. Disajikan dengan kemasan menarik dan menggoda. Beberapa bahkan nampak seperti perbuatan yang tak lagi tabu. Saking banyaknya orang yang berbondong melakukan kebrobrokan itu.

Saat aneka rupa godaan terhidang, ujian besar adalah soal bagaimana kita menjaga diri. Saat godaan itu terwujud dalam busur pandangan yang belum lagi halal, menundukkan pandangan adalah usaha keras kita menjaga diri.

Saat ujian datang menyeret dalam ajakan zina, maka menjaga diri darinya adalah menolak sekuat tenaga, memperbanyak puasa jika ia bujang atau menyalurkan ke istri jika ia sudah menikah.

Saat fitnah mampir dalam wujud harta dari jalan culas namun berlimpah, qanaah dan zuhud adalah cara kita menjaga diri.

Setiap godaan selalu ada penawarnya. Setiap ujian senantiasa tersedia jalan keluarnya. Tinggal jiwa kita memilih condong kemana. Sungguh, Allah SWT tahu seberapa kuat ikhtiar kita dalam menjaga diri. Niat dan kengototan kita dalam membentengi diri dari pelbagai godaan, semoga berbuah pahala yang besar dari sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah berpesan, salah satu golongan yang akan dinaungi di hari kiamat kelak adalah seorang pemuda yang diajak berbuat maksiat wanita, kemudian ia berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.”

Bukankah kita ingin menjejak sebagai manusia ihsan? Dimana kita beribadah seolah-olah melihat Allah SWT. Namun jika kita tak melihat-Nya, pastilah Allah SWT melihat kita. Allah SWT Maha Tahu seberapa kuat keinginan kita dalam menjaga diri.

Rupanya seorang Mukmin tak dituntut hanya menjaga diri. Jika ia memiliki imunitas terhadap godaan, maka ia berkewajiban mengubah godaan tersebut. Supaya tak lagi ada korban-korban lain yang daya tahannya bisa jadi sangat rapuh.

Pekerjaan kita tak hanya berhenti dalam menjaga diri, namun mengubah keadaan sesuai kemampuan. Jika melihat kemungkaran, maka yang memiliki genggam kekuasan harus mengubahnya dengan tangan. Jika tak sanggup, ia wajib menasehatinya dalam tutur kata nan baik. Jika tak lagi sanggup berdoa adalah benteng terakhir dalam menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kajian ala Mahasiswa Gontor

Cendikiawan Prof Nurcholish Madjid (Cak Nur) sempat mengunjungi pesantren tempatnya belajar, Darussalam ...