Home >> Dakwah >> Ayunan Sepedanya

Ayunan Sepedanya

Sebuah cerita yang langka? Bukan juga. Sebuah kisah yang membuatku terus bersyukur itu lebih tepatnya. Untuk beberapa tahun yang lalu dan masih rapi terekam di dalam otak ini dan sangat jelas. Semua karena nikmat Allah swt.

Aku harus bertemu dengannya, tak bisa mengelak karena Allah sudah menakdirkannya. Setiap hari aku bersamanya, bertemu dengan senyumnya, tawanya, kekhawatirannya, dan rasa sayangnya kepadaku yang tak pernah berkurang. Meskipun diri ini terus bertambah usia rasa sayangnya padaku tak berpindah ke lain hati.

Sepuluh tahun silam aku mengalami kejadian ini. Pada tubuh yang tak lagi muda dan keriput mulai tampak di wajahnya ia memberanikan diri mengantar gadis kecilnya. Saat itu hujan gerimis dan angin ikut mengantarkan kami menuju pertokoan yang menjual alat jahit. Dia mengayun sepeda tua tanpa mengeluh maupun adanya wajah capek memboncengku. Tak ada jas hujan maupun payung yang menutupi kepala kami dari hujan. Gelap dan sepi dijalanan membuat aku memegang erat-erat tubuhnya. Sekali lagi ia tidak merasa risih maupun megeluh karena aku merepotkannya.

Saat itu aku merengek minta dibeliin kain flanel untuk dikumpulkan besok paginya dan malam hari ia mengayun sepeda menboncengku di belakangnya. Kejadian ini terus aku ingat apalagi dalam rantauan kota orang. Tak banyak yang bisa kuberikan padanya. Malu rasanya pulang hanya membawa cerita.

Sedih, bahagia, namun juga khawatir. Di usiaku yang sudah lewat remaja aku belum bisa memberikan sesuatu yang spesial untuknya. Aku mengingat suatu hal yang amat luar biasa yaitu malam 10 terakhir di bulan ramadhan, aku akan meminta padaNya untuk keselamatan dunia dan akhirat yang jauh di sana yang tak lagi muda dan mengharapkan kehadiran gadis kecilnya yang dulu pernah membuatnya keluar malam di hujan gerimis dan angin kencang.

Pulang hanya sebentar, tak membuatku tak berbakti padanya. Surga yang ada pada telapak kakinya selalu kukejar dan kumohon Allah memasukkan kami di surga yang sama. Tak kuasa aku mengingat-ingat pengorbanannya, meskipun ia akan mengatakan tidak untuk melepasku ke tempat yang jauh tapi ia berusaha tegar dan percaya kepada Allah swt yang senantiasa menjaga anaknya.

Yang ada hanya syukur dan terus bersyukur. Dirinya tak minta apa-apa yang terpenting jaga keimanan dan shalat itu pesan yang sering diberikan padaku. Ayah ibu yang selalu kurindu.[dakwatuna]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kajian ala Mahasiswa Gontor

Cendikiawan Prof Nurcholish Madjid (Cak Nur) sempat mengunjungi pesantren tempatnya belajar, Darussalam ...