Berita Islami Masa Kini

Belajar Tawadhu

0

“Seluruh yang ada di langit dan di ‘Bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahaperkasa lagi Maha bijaksana” (Q.S. 62: 1).

Pagi ini sang mentari dengan sangat santun menyapa rerumputan yang menghijau disepanjang jalan.  Sinar mentari  pagi seakan memberikan selimut pada rerumputan yang sejak semalam terguyur  oleh hujan. Indah melihatnya. “ Hijau semburat kekuningan”.

Aku selalu suka mengamati hijaunya rumput yang terhampar luas di halaman depan kampusku. Subhanallah indah. Mereka kecil namun menarik untuk dipandang. Selain itu hijaunya rumput selalu saja membuatku tersenyum, Ingat Kampung halaman. “ Lho Kok?” . Iya, sebenarnya kesukaanku memandangi hijaunya rumput bermula dari kegemaranku memandang tanaman padi. Saat masih kuliah dulu, ketika mudik dari solo ke kota kelahiranku di jawa timur,  Mataku selalu saja tak mau ketinggalan mengamati pemandangan yang Allah ciptakan dengan begitu sempurna, “Hamparan tanaman padi yang menghijau”

Sekarang di Bandung, di daerah sekitar komplekku, tak ku temukan hamparan padi itu. Hanya rumputlah sebagai pengganti hijaunya hamparan padi. Menurutku, padi dan rumput memiliki tekstur yang hampir mirip. Walaupun awalnya pelarian, lama kelamaan Aku mengerti sisi kecantikan dari hijaunya rerumputan itu.

Jujur, sebenarnya Hatiku selalu mempertanyakan Arti dari salah satu  satu lirik lagu, yang bagiku lucu.“ Tanyalah pada rumput yang bergoyang?” sebuah analogi yang menarik sebenarnya. Aku berusaha memecahkan apa maksud dari analogi itu.

Pada saat perjalanan menuju suatu tempat. Tak sengaja, mataku mengamati rumput-rumput ilalang yang terbentang cukup luas.  rumput-rumput ilalang itu dipenuhi bunga-bunga putih nan cantik.

Mataku tak henti mengamati ilalang itu, Saat tak ada angin, tubuh mereka tegak, tanpa riak sama sekali. Si kecil yang tenang dan sederhana. Ilalang itu diam dalam tasbihnya kepada Illahi dan tak silau dengan keinginan dipandang manusia. Hal ini terbukti dari banyak orang yang lebih suka mawar di banding ilalang. Satu lagi yang menarik dari ilalang itu, Saat mereka berdzikir dan tegak dalam diamnya, mereka laksana mentauhidkan Allah. tegak lurus ibarat angka 1, yang menggambarkan bahwa 1 tuhan yang  patut disembah dimuka bumi “ Allah SWT”

“Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahahidup, Maha Berdiri Sendiri, yang karena-Nya segala sesuatu ada” (Qs. Ali Imron: 2)

Saat itu, pengamatanku belum mampu menjawab, analogi “Tanyakan pada rumput yang bergoyang “.  Aku berharap segera ada angin yang datang, biar aku mengerti apa sebenarnya maksud  dari analogi itu. sesaat setelah aku berkeinginan agar angin segera datang, Allah mengabulkan harapanku.  Subhanallah, sebuah pemandangan yang indah.

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran:191)

Rumput ilalang itu, dengan lembutnya bergerak  ke arah kanan dan kiri ibarat orang yang menggelengkan kepalanya tanda “TAK TAHU”.  Coba saja, bila benar kita bertanya pada rumput yang bergoyang ketika ada masalah. Si Rumput akan menjawab TAK TAHU dari gerakan mengeleng-geleng kekanan dan kekiri secara kompak. Hal ini menandakan sikap  tawaduk (tidak sombong) Si Rumput. Dijawabnya jujur bahwa iya tak tahu ketika ada orang yang mengadu padanya, karena baginya hanya Allah lah yang maha tau. Itulah yang sebenarnya diajarkan oleh si rumput yang bergoyang kepada kita. Sebuah Pesan dalam Diam atas ketawadukannya  yang mengajak kita untuk senantiasa  kembali dan bergantung hanya kepada Allah. Karena hanya Allahlah  yang mampu menolong kita.“ Subhanallah”

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,” [QS Yusuf: 86].

Sahabat,  Mari banyak membaca ayat-ayat kauniyah dari Allah. Semoga kita mampu mengambil banyak hikmah dari Alam sehingga kita mampu menjadi pribadi yang Taqwa.  Aamiin. [ip]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.