Home >> Kisah >> Cerita Mualaf Yuni, Pergi dari Rumah Hingga Menemukan Cinta di Tanah Abang

Cerita Mualaf Yuni, Pergi dari Rumah Hingga Menemukan Cinta di Tanah Abang

Jakarta – Lika-liku hidup Yuniati Suryoatmojo (36) menemukan Islam memang panjang. Mulai dari pergi dari rumah, diperalat, hingga akhirnya menemukan cinta di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Yuni mengucap syahadat tahun 2005 dengan dibimbing oleh temannya melalui telepon. Yuni belum berani terang-terangan beribadah karena takut ketahuan orang tuanya.

“Waktu itu cuma baru bisa salat, kan nggak punya mukena jadi pakai sarung sama jaket. Salatnya di dalam kamar dikunci, sajadahnya pakai kain terus di lantai aku taruh buku tuntunan salat,” cerita Yuni saat ditemui detikcom di rumahnya di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2015).

Yuni besar di lingkungan keluarga Tionghoa di Surabaya. Saat kuliah, ibu kandung Yuni meninggal dan ayahnya menikah lagi. Namun hubungan Yuni dan ibu tirinya kurang baik.

“Pas sudah selesai skripsi tinggal wisuda, aku kabur dari Surabaya karena ada konflik sama ibu tiri soal harta warisan. Aku ini kalau harta nggak minta deh, aku cuma minta kebahagiaan. Akhirnya aku kabur ke Depok tahun 2006, naik kereta sendiri cuma bawa uang sedikit sisa tabungan,” kenang Yuni.

Di Depok, Yuni tinggal di rumah teman yang dikenalnya melalui internet. Di rumah itu dia tinggal berempat bersama temannya seorang laki-laki, ibu dan adik temannya. Tinggal selama 6 bulan di sana, Yuni berniat untuk belajar agama namun tak mendapat apa yang dia harapkan. Dia juga membeberkan pengalaman yang kurang mengenakkan lainnya.

“Bingung kok ketemu orang yang kayak gini, mungkin emang jalannya mualaf begitu,” ujar Yuni.

Yuni yang mulai mengenakan jilbab saat kerja di Kebayoran itu curhat ke teman kantornya tentang apa yang dialami. Oleh temannya dia dikenalkan dengan seseorang di Tanah Abang yang kini menjadi suaminya, Herry Hermawan Hidayat.

“Dia bilang jangan tinggal di Depok lagi, aku suruh pindah. Akhirnya aku dikosin di Tanah Abang. Diajarin wudu, salat dan ngaji sama dia,” katanya.

Selama indekos di Tanah Abang tahun 2007 banyak hal yang dialaminya hingga akhirnya menikah pada 2012. Awal pindah kos, Yuni bekerja di sebuah perusahaan di Pluit, namun di sana dia diminta melepas jilbab dan kembali ke agama lamanya. Yuni menolak dan memilih melepas pekerjaan itu.

“Pernah juga belajar sama ustad di Bekasi tahun 2008. Sempat satu hari tinggal di sana tapi aku malah mau dijadiin istri kedua atau ketiga gitu, aku nggak mau dan kabur pulang,” ujar anak tunggal ini.

Yuni lalu mencari tempat lain untuk belajar agama, dia bertemu dengan lembaga mualaf di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Namun ternyata tempat itu hanya memanfaatkan para mualaf untuk dapat keuntungan.

“Kami malah dijadikan komoditas untuk cari uang. Uang donaturnya nggak sampai ke kami, sekarang sudah tutup kayaknya,” ucap Yuni yang juga pernah masuk ke pengajian ekstrem garis keras ini.

Yuni juga pernah diminta uang untuk syahadat keduanya oleh suatu masjid di Jakarta Timur. Yuni pada tahun 2005 memang belum mendapatkan sertifikat mualaf karena syahadat via telepon dengan bimbingan temannya. Yuni butuh sertifikat itu untuk mengurus surat-surat administrasi kependudukan.

“Aku mau syahadat tapi malah dimintain uang Rp 1 juta lebih, katanya untuk administrasi. Karena nggak ada biaya akhirnya nggak jadi. Aku pindah ke masjid lain dan Alhamdulillah syahadat gratis meski sertifikat mualafnya lama keluar,” katanya.

Pencarian terus berlanjut, Yuni merasa tempat-tempat yang didatanginya tidak pas dengan hati nurani. Dia merasa ada yang janggal dan tak sesuai dengan ajaran Islam yang selama ini dia tahu. Akhirnya baru pada 2011 dia bertemu dengan lembaga yang baik yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar.

“Saya kenal lembaga Muhtadin punya Masjid Al-Azhar, saya diajari di situ benar-benar belajar agama dari dasar. Sampai sekarang saya jadi pengurus di sana, saya sudah bisa ngaji sekarang,” ucap Yuni sumringah.

Kebahagian Yuni bertambah karena setelah itu dia dipinang oleh Herry Hermawan, pria yang menolongnya pindah ke Tanah Abang 5 tahun lalu. Butuh waktu lama bagi Herry untuk melamar Yuni karena kondisi ekonomi. Herry bekerja di bidang instalasi komputer dan mengidap maag kronis.

“Ngumpulin uangnya lama untuk nikah. Pas nikah juga sederhana, banyak yang bantu, salah satunya Ibu Sri dari Ciganjur, dia kasih kasur spring bed, kasih uang untuk keperluan nikah dan peralatan rumah tangga lain. Ibu Sri itu kenalan suamiku, dia jadi orang tua angkat aku sekarang, dia nggak punya anak,” tutur Yuni.

Kini Yuni ikut membantu suaminya bekerja, dia tinggal di rumah peninggalan keluarga suaminya bersama dengan 7 keluarga kakak iparnya di Tanah Abang. Meski hidup sederhana Yuni merasa tenang dan hidupnya lebih terarah.
[detik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Panglima TNI Yakin Tak Ada Upaya Kudeta, Lain Lagi Kata Pulisi…

Trenmuslim.web.id– Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, hingga saat ini proses penyidikan ...