Berita Islami Masa Kini

Cokelatnya Masjid Uqbah bin Nafiq

0

Setelah sebagian besar wilayah Afrika Utara dikuasai Muslim pada tahun 700 Masehi membuat sebagian besar penduduk memeluk Islam. Karena peminat terhadap ajaran agama Islam terus membludak, tokoh masyarakat setempat bersama dinasti yang berkuasa saat itu segera membangun masjid, agar religiusitas masyarakat setempat tetap terjaga dan terkelola dengan baik. Sehingga ketika ada paham ajaran agama lain yang datang, mereka tidak terpengaruh. Itulah salah satu unsur pembangunan masjid di daerah ekspansi.

Masjid yang mereka bangun memang tidak semewah seperti bangunan masjid-masjid di Eropa. Namun, untuk ihwal luas, masjid di Afrika berani bersaing dengan luasnya  masjid di Eropa. Dan lagi masjid yang terdapat di Afrika memiliki ciri khas mulai dari desain sampai warnanya tidak dapat ditiru oleh setiap masjid di seluruh dunia.

Warna yang terdapat pada  masjid di Afrika adalah warna coklat. Warna coklat inilah merupakan hasil pantulan dari bahan baku utama yakni lumpur yang diproses menjadi batu bata yang selalu digunakan hampir setiap bangun masjid di Afrika Utara. Sehingga warna coklat menjadi dominan pada bangunan masjid di Afrika seperti terlihat pada keindahan masjid Uqba bin Nafik yang didominasi warna coklat tanpa cat.

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Kairouan dan merupakan salah satu masjid paling beserajah di Tunisia. Karena, dibangun pada tahun 670 Masehi oleh Uqba bin Nafik salah seroang sahabat Nabi yang berkuasa setelah menguasai Tunsia. Sejarahnya Uqbah bin Nafik, masuk ke Tunisia lewat   Mahdia, kota  pantai  30 km timur  kota Sousse.

Kemudian  rombongan  ini  menuju  Kairouan,  dan  menetap  di sana.  Di  kota  inilah,  Uqbah mengatur  strategi  penyebaran  Islam di  Afrika Utara serta  mendirikan sebuah masjid  besar,  yang  kemudian  dikenal  dengan  nama  masjid Uqbah.

Pada perkembangannya masjid ini telah menjadi role model bagi semua masjid di Afrika. Mulai  konsep sampai pernah pernik mengikuti masjid yang berdiri di atas tanah seluas 9.000 meter persegi ini.

Pada awalnya, masjid ini terbilang sangat kecil dan atapnya hanya ditopang oleh tiang-tiang yang tegak lurus. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, bangunan suci ini diperluas dan mengalami perubahan signifikan.

Sekilas bentuk luar masjid Uqba bin Nafik terlihat seperti sebuah benteng yang memagari sebuah area. Desain masjid ini tidak memiliki kerumitan yang signifikan seperti bangunan-bangunan masjid di Eropa, tetap Masjid Agung Kairouan ini merupakan satu monumen Islam yang paling mengesankan dan terbesar di Afrika Utara.

Kemegahan masjid yang didominasi oleh tiang-tiang melengkung ini pernah hancur tak berbentuk selama pendudukan Berber atas kota Kairouan. Tidak memakan waktu lama kemudian masjid ini dibangun kembali oleh Hasan bin Nukman al- Ghassanid pada tahun 703. Sisa bangunan dari Hasan bin Nukman seperti yang terlihat pada selasar yang luasa yang terdapat di dalam masjid.

Oleh Hasan, masjid ini dibangun kembali dengan memperbanyak tiang-tiang beton yang ditancapkan ke bumi dan pondasi yang kokoh. Namun pada tahun 836, Ziadet menyempurnkan bangunan masjid ini dengan merekonstruksi masjid secara keseluruhan dengan membangun menara dengan tinggi sekitar 31,5 meter dengan alas persegi 10,7 meter.

Menara tersebut terdiri atas tiga tingkat. Di bagian paling atas, terdapat sebuah kubah kecil. Seperti sebagian bangunan lain di dalam kompleks masjid, menara itu dibangun dari batu susun yang berasal dari puing-puing peninggalan Romawi yang terdapat di sekitar atau di dekat lokasi tersebut.

Selain tempat menyerukan azan, menara itu menjadi tempat pemantau. Dari kejauhan, menara tunggal tersebut terlihat seperti mercusuar di pantai atau di laut. Setelah memasuki salah satu gerbang masjid yang terbuat dari kayu tebal berukir. Setelah melewati tangga maka perhatian tertuju ke halaman masjid yang cukup lapang. Bahkan, lebih luas jika dibandingkan dengan bagian dalam masjid yang digunakan untuk salat. Berukuran sekitar 65 x 50 meter, halaman masjid itu memiliki empat sisi.

Pada empat sisi menara Masjid Agung Kairoun ini terdapat motif-motif sebagai hiasan abstrak berdirinya sebuah menara yang kokoh dan masif di sisi utara masjid. Menara ini juga dianggap sebagai menara tertua dalam dunia Islam dan sebagai bangunan dunia tertua yang masih berdiri. Karena usia dan arsitekturnya yang khas, menara Masjid Agung Kairouan ini menjadi model menara di dunia Islam Barat.

Dengan tampilan yang kokoh dan dekorasi yang indah, menara dan Masjid Agung Kairouan tampil sebagai struktur yang harmoni dan menakjubkan, sehingga turis dari Eropa dan Asia biasanya juga singgah ke kota itu saat berkunjung ke negara di timur Aljazair dan barat laut Libya tersebut.

Untuk dapat memasuki menara ini, pengunjung mesti melewati pintu utama yang menghubungkan bagian dalam masjid. Karena menara ini tak memiliki akses masuk dari luar. Akses masuk hanya bisa dicapai dari dalam.

Area bangunan masjid yang mirip dengan tembok ini memiliki empat sisi yang ukurannya tidak sama. Bagian timur memiliki panjang 127,6 meter atau lebih panjang ketimbang sisi barat (125,2 meter).

Pada bagian selatan area masjid (78 meter) juga lebih panjang daripada sisi utara (72,7 meter). Masjid itu memiliki total luas area sekitar 9 ribu meter persegi. Di sisi utara area masjid itu, terdapat sebuah menara yang berdiri di tengah-tengah tembok.

Sementara dinding dari masjid merupakan salah satu bagian atau sisi masjid menyatu dengan tembok medina. Tinggi Bangunan dengan tembok mirip benteng setinggi 1,9 meter ini merupakan salah satu warisan terpenting dan merupakan bagian dari Kota Kairouan. [rol]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.