Home >> Internasional >> Di Bulan Ramadhan, Rasa Persaudaraan Pengungsi Muslim Sri Lanka Semakin Erat

Di Bulan Ramadhan, Rasa Persaudaraan Pengungsi Muslim Sri Lanka Semakin Erat

SEBELUM matahari terbenam, keluarga di kamp Mujabdeen Puram di barat laut Sri Lanka mulai perlahan berkumpul di tempat terbuka. Berada di bawah tempat tertutup di sebuah tenda kecil, di mana di tempat itulah terdapat panci berisi kaldu tradisional dan beberapa nampan yang berisi makanan manis.

Ketika senja tiba, anak-anak di wilayah komunal itu akan terburu-buru mengambil panci dan nampan tersebut dan kemudian orang-orang dewasa pun akan mengikuti anak-anak itu, World Bulletin melaporkan, pada Selasa (14/07/2015).

Makan malam iftar telah menjadi keadaan yang sangat komunal bagi penduduk Muslim di kamp. Penduduk ini telah mengungsi sejak tahun 1990-an, di mana telah terjadi perang saudara. Setelah terjadi perang saudara, mereka di usir dari rumah mereka oleh separatis Macan Pembebasan Tamil Eelam (Liberation Tigers of Tamil Eelam).

Namun, setelah bertahun-tahun menghabiskan hidup di pengungsian, masyarakat tersebut menjadi lebih kuat apalagi dalam memperingati bulan Ramadhan ini.

“Ini adalah waktu ketika saya tidak merasa putus asa menjadi pengungsi, diusir dari negara saya. Kami adalah komunitas dan kami saling mendukung. Kita lupa masa lalu kita yang sedih karena di sini kita beribadah bersama dan berbuka bersama-sama pula,” kata Saudeena Nuruldeen (39) seorang ibu dari dua anak yang lahir di kamp.

Mainathul Habeeba (54) mengatakan bahwa mereka berbagi makanan sebagai bentuk solidaritas dan persaudaraan. Itulah yang membuat kami bertahan hidup selama bertahun-tahun dalam beratnya tragedi, kemiskinan dan kondisi yang keras.

Dengan lebih dari 15.000 Muslim yang tinggal di kamp-kamp pengungsian—di pusat terbesar yang tersisa di distrik Puttalam—pemukiman adalah tempat yang mengingatkan pada perang pulau selama 27 tahun dan masyarakat mengatakan bahwa pemukiman mereka telah kembali di bakar politik selama tiga dekade.

“Saya tidak pernah tahu apa-apa yang terjadi di luar kamp ini. Orang luar menyebutnya kamp tetapi bagi kita itu adalah rumah,” kata Fathum Salahuddeen, seorang gadis berusia 13 tahun. “Iftar adalah saat paling membahagiakan bagi saya karena semua orang berkumpul bersama-sama,” tambahnya.

“Selama Ramadhan, komunitas ini terasa lebih dekat daripada sebelumnya. Setiap tahun, kita menjadi lebih dekat,” ujar Mehurnisa, Ibu dari Fathum Salahuddeen yang telah mengungsi sejak tahun 1996.

Berbeda dengan akhir tahun, di bulan Ramadhan Muslim Sri Lanka lainnya saling berhubungan terutama melalui sumbangan keuangan untuk saling membantu.

Dawood Bawa (43) yang bekerja sebagai tukang ledeng mengatakan bahwa bantuan yang mereka dapatkan dari orang lain selama bulan memberikan keringanan bagi masyarakat.

“Selama periode ini, orang-orang difokuskan pada kegiatan spiritual. Mereka dapat berbagi dan mencari orang-orang seperti kita, yang membutuhkan dukungan. Anak-anak paling bahagia selama bulan Ramadhan. Pada festival (Idul Fitri), mereka menerima hadiah dan kami sejenak melupakan penderitaan kami sebagai pengungsi ” kata Dawood Bawa.

Selama bertahun-tahun, pemukiman telah memiliki perlengkapan permanen yang sudah terpasang. Warga telah diberi rumah baru dan banyak dari mereka yang terhubung ke jaringan listrik, walaupun  pasokan air masih langka sehingga mereka terpaksa untuk bergantung pada keran umum.

Masalah pemukiman mereka tetap belum terpecahkan meskipun laporan negara yang mengaku bahwa Muslim telah dipaksa keluar dari rumah mereka oleh pemberontak Tamil di utara di tahun 1990.

Farook Bawa (60) seorang pengungsi dari kota utara Mannar mengatakan bahwa ketahanan masyarakat telah membantu mereka mengatasi kerentanan mereka.

“Berasal dari Islam dan kita memperoleh kekuatan dari orang lain yang mendukung kami, terutama selama bulan Ramadhan,” kata Farook Bawa. “Kami adalah orang-orang miskin. Tetapi jika semua pengungsi mendapatkan tempat tinggal di rumah sederhana di Ramadhan berikutnya, hal itu merupakan keinginan saya selama 25 tahun terakhir, saya pikir Tuhan telah mendengar doa saya,” tambahnya. [ry/islampos]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Panglima TNI Yakin Tak Ada Upaya Kudeta, Lain Lagi Kata Pulisi…

Trenmuslim.web.id– Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, hingga saat ini proses penyidikan ...