Home >> Muslimah >> Di Hari Raya Idul Fitri, Mari Jatuh Cinta Lagi

Di Hari Raya Idul Fitri, Mari Jatuh Cinta Lagi

Pasangan suami istri yang dikaruniai buah hati, lantas mengaku-ngaku telah menjadi orang tua sesungguhnya tengah terjerembab ke dalam satu dari sekian banyak kesalahan yang sering diperbuat orang kebanyakan. Ibarat seorang bocah ingusan yang hanya karena telah memegang bola lantas mengaku-ngaku sebagai pesepakbola kenamaan, padahal bukan bola yang menjadikan ia pesepakbola, keberadaan ayah dan ibu serta anak sekalipun tak lantas menjadikannya sebagai keluarga. Sebuah gelar dan posisi selalu menghadirkan konsekuensi, tanggung jawab menyertai, proses harus dilewati, mesti siap dievaluasi, bahkan hingga setelah mati di akhirat nanti.

Orang tua ialah posisi yang mulia, gelar yang tak sembarang orang memakainya, orang pilihan yang diamanahi titipan, anak yang harus dididik dan dibesarkan, tak sekadar diberi makan atau jajan, tetapi mesti dicurahi cinta dan dibaluti sayang. Allah mengamanahkan anak sebagai titipan, jangan sampai dititipkan lagi, karena tak mungkin Allah salah menitip, jangan khianati amanah meski susah payah.

Banyak pribadi yang kesepian, mereka merasa sendiri dalam kebersamaan, ada atau tiadanya keluarga tak bisa dibedakan, jasad dan pikiran telah berada di tempat yang berlainan, dikerubuti kebingungan dan diselimuti kehampaan.

Dokter yang malpractice hanya dapat menghilangkan nyawa pasien, arsitek yang malpractice hanya dapat meruntuhkan bangunan yang didesain, namun orang tua yang malpractice akan membuat anak-anak dan beberapa generasi manusia setelahnya hidup menjadi alien, tak tahu bagaimana hidup dan merasa selayaknya manusia, beberapa bagian nurani mungkin mati hingga mereka tak tahu cara memuliakan pribadi, beberapa bagian akal pikiran mungkin teracuni hingga mereka berbuat banyak kerusakan di muka bumi.

Mereka yang hidup terlunta-lunta dan menginginkan cinta namun belum bisa meraihnya. Pribadi-pribadi yang kelaparan cinta, ayah yang mengharap cinta istri dan anaknya, ibu yang mengharap cinta suami dan anaknya, anak yang mengharap cinta ayah ibunya. Cinta, sepanjang sejarah manusia senantiasa berada di peringkat pertama sebagai rasa yang paling ingin dimiliki manusia yang dengan memilikinya manusia berharap bahagia.

Banyak pribadi yang kaya harta namun miskin kata-kata, mengaku-ngaku orang tua namun nyata-nyata hanya berfungsi layaknya ATM bersama, didekati saat ada yang diingini, dijauhi ketika tiada lagi mampu memberi. Mereka miskin kreativitas, tak mampu memperlakukan keluarga dengan pantas, tak berkomunikasi sering dijadikan jalan pintas, cari aman meski hubungan menjadi tak berkualitas.

Mengaku-ngaku orang tua akan tetapi buta akan cinta, anak-anak dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa rasa sayang. Wahai ayah wahai ibu, tak cukup hanya didoakan, anak-anak butuh kecupan penuh kehangatan, butuh dikayakan dengan penghargaan, bukan direndahkan melalui meja penghakiman. Anak-anak membutuhkan rasa aman dan nyaman, tak butuh ledekan atau gertakan.

Lebaran kali ini mari kita kembali renungi, hak dan kewajiban apa saja yang belum dipenuhi. Tali cinta dan tali kasih yang perlu diperbaiki, jangan sampai dirusak atau diputus lagi. Tak perlu alasan untuk mencintai, tak perlu cari-cari alasan sehingga ingin membenarkan benci. Tak mencari-cari jalan untuk lari, tetapi mencari arah yang sama untuk dapat bertemu kembali.

Orang tua adalah pendidik, pengapresiasi, pencinta, dan pemberi warna. Orang yang pertama kali menyatakan dukungan dan orang terakhir yang menaruh keraguan. Dan keluarga adalah tentang membicarakan hidup secara terbuka, pembicaraan yang hanya menyediakan tempat bagi kebaikan saja, tak ada cerca mewujud menjadi kata, tak ada hampa dalam tiap sorot mata, setiap anggota keluarga antusias demi hubungan yang berkualitas.

Hidup berkeluarga bukan tentang berlelah-lelah mencari siapa yang salah, hidup berkeluarga adalah tentang menawarkan diri untuk menjadi bagian dari solusi, menggunakan segala daya untuk bahagia bersama.

Ramadhan yang telah dijalani, menjadi sekolah yang amat berharga bagi tiap pribadi. Memaafkan bukan lagi pilihan, kebersamaan bukan lagi keterpaksaan, semua hadir karena suatu keinsafan, berharap ridha dan ampunan dari Allah Yang Maha Rahman, Yang Maha memberikan bahagia kepada manusia yang dikehendakinya.

Berkeluarga membawa konsekuensi dunia akhirat, tiada yang dituju selain jalan selamat, yang mesti diawali lurusnya niat, menjadi keluarga itu lillah, tak masalah meski sampai berlelah-lelah. Dinamika kehidupan sering membuat tiap pribadi hilang kendali, Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk kembali menetapkan visi, agar perjalanan hidup berkeluarga tak hilang arah lagi.

Visi hidup keluarga Muslim ialah “Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim [66] ayat 6). Misi hidupnya adalah “Beribadah Kepada Allah Swt.” (Adz-Dzaariyaat ayat 56). Pedoman hidupnya adalah Alquran (Al-Baqarah ayat 2) dan as-Sunnah (Al-Ahzab ayat 21). Semboyannya “Lillahi Ta’ala”. Prinsipnya “Asal Allah Suka, Semua Suka-suka Allah”, karena Allah Swt. sebagai pencipta pasti memberi yang terbaik bagi hamba-Nya.

Tidak ada kata “tidak peduli” dalam keluarga yang bervisi Islami. Masing-masing berbagi peran untuk saling menyelamatkan, ayah yang menunjukkan arah, ibu yang turut memandu, anak yang ikut bergerak. Tidak ada lagi kata “terpaksa”, dipaksa tidak jadi masalah, karena beberapa hal ada yang berhukum fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, mendidik memang seni yang unik, ketegasan dan aturan memang diperlukan, dan standar yang terbaik ialah yang telah Rasulullah Saw. contohkan, kalaupun harus memukul ada standar yang harus ditaati dan tentu bukan untuk tujuan menyakiti.

Jika kita mencontoh Rasulullah Saw., tak pernah kita mendapati beliau mendidik dengan caci maki atau berbicara dengan cara yang menyakiti. Rasulullah saw. selalu menghadirkan bahasa pantas dan berkualitas, meneduhkan dan mencerahkan. Orang tua jangan coba-coba menetapkan standar sendiri tanpa berpegang pada tuntunan Ilahi, kacau nantinya, rapuh pondasinya. Bawalah selalu Allah dan Rasulullah, “Nak, kata Allah…” atau “Nak, kata Rasulullah…”.

Anak dan Keluarga

Anak ialah pendukung utama orang tua agar bisa masuk surga, sekaligus musuh utama jika dia menjadi durhaka dan menjerumuskan orang tua ke dalam neraka. Anak tak bisa memilih untuk lahir di keluarga mana dan orang tua yang seperti apa, tetapi dengan berusaha tiap anak memiliki peluang yang sama untuk menjadi insan yang berbahagia.

Ayah ibu adalah orang yang paling berhak menerima baktimu, perlakuan terbaikmu, kata-kata terindahmu, dan upaya mati-matianmu. Paling berhak atas pemaafanmu atas sedalam apapun kecewa dan rasa pedih dalam jiwa. Semua tidak mudah, tapi mari ikhlaslah.

Bagi tubuh adalah nyawa yang memberi kehidupan. Jika nyawa tidak ada lagi, matilah tubuh. Bagi pribadi, ikhlaslah yang menjadi nyawanya. Pribadi yang tidak memiliki keikhlasan adalah pribadi yang mati. Meskipun dia masih bernyawa, arti hidupnya tidak ada. (Buya Hamka)

Anak berbakti pastilah lebih peduli pada perbaikan keluarga dibanding mengorek-ngorek borok yang ada. Lebih senang menebar wangi dibanding menghujat dengan penuh rasa benci. Pertemuan dan kelahiran merupakan takdir yang telah Allah Swt. tetapkan, hadapi dengan penuh kesyukuran dan keikhlasan. Seraya terus berusaha dan berdoa, moga-moga Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya ridha-Nya serta ampunan-Nya.

Menjadi berbakti adalah janji, karena cinta tak pernah dapat diterima tanpa adanya bukti. Masuk surga sekeluarga adalah cita yang sejati, usaha tanpa kenal menyerah ialah satu-satunya jalan yang harus dilewati, ikhlas dalam menjalaninya adalah harga yang tak bisa ditawar lagi. Di Idul fitri, mari jatuh cinta lagi, berkali-kali. Mari kita kekalkan cinta ini demi ridha Ilahi. Wallahu a’lam. [dakwatuna]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Panglima TNI Yakin Tak Ada Upaya Kudeta, Lain Lagi Kata Pulisi…

Trenmuslim.web.id– Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, hingga saat ini proses penyidikan ...