Home >> Opini >> Duhai Ikhwah, Mana Nyalimu tuk Nikah?

Duhai Ikhwah, Mana Nyalimu tuk Nikah?

Ketika ikhwan zaman sekarang hanya “jago berteori”, ikut seminar pra-nikah di mana-mana, membaca buku bertema pernikahan. Namun nyalinya ciut jika ditanya murabbi, “akhi, apa antum sudah siap menikah?” dan dijawab dengan, “Nanti dulu ustad, ana belum siap”. Lah, sampai kapan mau siap? Padahal teori tentang pernikahan sudah dilahap semua, lalu apa artinya kalau hanya bisa berteori namun belum bisa mempraktekkannya?

Ada lagi yang jago berdebat, semisal soal poligami. Hampir di setiap kesempatan dalam kolom diskusi baik di website, majalah, chatting dll yang hampir semua pesertanya adalah ikhwan. Pertanyaannya, bagaimana mau memberi satu solusi bagi dirinya sendiri tentang poligami, kalau menikah dengan satu orang aja belum berani?

Berapa banyak biodata akhwat yang menunggu dipilih olehmu, namun lewat begitu saja lantaran standarmu yang terlalu tinggi; cantik, pintar dan shalihah. Dari tiga kriteria tersebut jika ada yang tidak terpenuhi maka kau mencari yang lain, yang belum tentu ada akhwat shalihah memiliki ketiganya. Pun kalau ada, barangkali ia tidak memilihmu. Bukan begitu?

Di mana kesempurnaan dien ini hendak kau junjung duhai ikhwan, ketika kau tak merasa berdosa melihat para akhwat yang “merana” menunggu jiwa ksatriamu untuk meminangnya?

Soal finansial kau permasalahkan.. hidupmu masih belum ada kemapanan. Memang menurutmu yang mapan yang bagaimana? Kerjaanmu hanya serabutan, dapat penghasilan jumlahnya gak karuan, hanya puluh ribuan yang masuk dalam saku celana. Bukannya lebih baik daripada gak kerja?

Ada lagi soal pendidikan, yang kamu dengungkan. Katanya ingin mengejar studi setinggi-tingginya.. Katamu sebagai bekal ketika berumah tangga. Tau-taunya, ilmu teknik komputer jarang kepakai saat berumah tangga. Karena ilmu sesungguhnya adalah saat menjalani rumah tangga itu sendiri bukan sebatas teori.

Aihh ikhwah, mana nyalimu? Ketika kau menjunjung tinggi prinsip dalam menjaga pandangan namun tanpa sadar kau sering tergoda dengan seorang akhwat yang lewat di hadapanmu. Kau berusaha menundukkan pandangan, namun hasratmu untuk melihat kecantikan seorang akhwat sungguh tidak terbendung, hingga prinsip itu hanya sekadar omong kosong belaka.

Sesungguhnya, sulit bagimu menjaga pandangan… jikalau kau belum punya nyali untuk menikah. Sebab ikhwan yang sudah menikah saja masih bisa tergelincir untuk tergoda dengan kecantikan akhwat. Lha gimana kamu yang masih bujang? Bedanya, kalau yang sudah menikah ketika tergoda dengan akhwat lain bisa segera menghampiri istrinya, lha kalau kamu jang, mau datengin siapa???

Duh ikhwan, mana nyalimu? Tak usah terlalu tinggi dalam menentukan standar pasangan. Tersebab itulah yang membuat kau menjomblo terlalu lama. Sementara di luar sana puluhan, ratusan bahkan ribuan akhwat sedang menanti kedatanganmu untuk menikahinya. Tetapkan standar utama yaitu agamanya, karena ketika kamu memilih wanita karena agamanya, ia mengetahui tugas dan perannya sebagi istrimu dan kelak sebagai ibu bagi anak-anakmu nantinya.

Jangan, jangan lagi mengukur akhwat karena cantik atau tidaknya. Karena selama ini yang kamu lihat cantik dari seorang akhwat barangkali karena hasil make-up, barangkali bukan karena cantik hatinya. Jadi, carilah akhwat yang baik agamanya, bagus perangainya hingga nantinya ia akan bisa menaatimu sebagai imamnya.

Masih belum punya nyali juga? Mana nyalimu itu? Yang lantang berani ketika aksi. Yang pintar bicara ketika orasi, atau yang gemar tampil sebagai MC. Semua itu gak berarti, kalau nyali ciut ketika nikah hanya sebatas teori, sementara nyalimu… dinanti akhwat, jangan sampai mati. (usb/dakwatuna)

2 comments

  1. mickyhadisaputra

    siiiip

  2. Siapkah? harus siap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Shalat yang tak Shalat

Oleh Khusrur Rony Al Djufri Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Akan datang pada ...