Berita Islami Masa Kini

Indonesia, Mati atau Madani?

0

Di Suatu malam, menjelang hari kemerdekaan. “Bung, Apakah anda yakin kita bisa memimpin Indonesia, lebih baik daripada ketika negeri ini dipimpin oleh Belanda dan Dai Nippon? Apakah anda yakin kita bisa memimpin puluhan juta jiwa menuju kesejahteraan?”, saat itu Bung Karno merenung, di saat-saat kemerdekaan sejenak lagi hadir di depan mata, tinggal menunggu mentari terbit. Air wajahnya pucat, ia bersama rakyatnya sebentar lagi akan hidup berdikari di negeri sendiri, namun hati bertanya-tanya akankah putra bangsa bisa mengantar tanah airnya menuju puncak kejayaan.

“Yakin bung! Yakin!”, Hatta sedikit mengeraskan suaranya.

“Ada sesuatu yang Syahrir tak memilikinya darimu, You can hold people’s heart! Anda bisa menggenggam hati rakyat!”, jawab Bung Hatta meyakinkan Soekarno. Kira-kira, apakah terbayang, sebuah negeri raksasa hari itu akan mulai diputar roda sejarahnya oleh anak bangsa sendiri, melepaskan diri dari pengaruh kepentingan bangsa lain, dan memulai hidup barunya sebagai bangsa berperdaban yang diperjuangkan dengan peluh dan darah?

Akhirnya, Jum’at, 17 Agustus 1945, dalam hangatnya suasana Ramadhan, Soekarno-Hatta dan generasi pejuang 45’ mendeklarasikan ide mereka menjadi nyata, memproklamirkan impian mereka menjadi bentangan tanah yang luas, terbentang indah dari Sabang hingga Merauke; Indonesia!

Menjadi Indonesia; Ide Melampaui Zaman

                Ide menjadi Indonesia adalah ide besar yang menginspirasi banyak bangsa, membuat segan barat dan mengilhami dunia timur untuk melakukan gerakan yang sama. Di era itu, kawasan Arab yang jumlah penduduknya relatif sama dengan jumlah penduduk Indonesia terpecah-pecah menjadi banyak Negara. Namun tidak bagi Pejuang kemerdekaan di Nusantara. Mereka bukan bercita-cita mendirikan Negara serikat yang terpecah-pecah, bukan juga ingin mendirikan Kerajaan yang tidak sejalan dengan cita-cita kebangsaan. Mereka berhasil menyatukan pulau-pulau besar itu menjadi satu ikatan kuat.

Soekarno telah membawa 18 ribu pulau di Nusantara menjadi sebuah bangsa yang satu; Indonesia, sebuah ide yang baru hari ini bisa kita singkap baik-baik, di saat zaman itu manusia lebih memilih hidup berkelompok dan berpecah-pecah menurut bloknya, Indonesia justru menjadi tuan rumah bagi bangsa yang ingin hidup damai, menjadi ibukota gerakan moderat yang mengakomodir Negara Asia Afrika untuk hidup sejati tanpa intervensi manapun.

Indonesia Kita Yang Hebat

                Indonesia kita adalah negeri yang pernah mengirim tenaga guru ke Malaysia, membangun negeri orang hingga hari ini kita tertinggal oleh mereka. Indonesia pernah mengalahkan pasukan pemenang perang Dunia II, meluluhlantakkan tentara Inggris yang angkuh baru saja memenangkan perang melawan Hitler, Mussolini dan Hirohoto. Ternyata, pasukan yang katanya terbaik di dunia saat itu kalah dalam beberapa serangan gerilya pimpinan Jendral Soedirman, yang saat itu ditandu kemana-mana sebab paru-paru beliau yang sakit.

Negeri kita ini begitu kaya, sampai-sampai era dulu, ketika Dunia diserang wabah malaria dan membutuhkan tanaman kina untuk mengobatinya, 90% pasokan obat Malaria untuk mengobati dunia seluruhnya berasal dari Indonesia. Pernah pula Negeri kaya raya ini mengekspor pasokan beras secara cuma-cuma ke India yang di masa itu sedang dalam krisis pangan. Belum lagi tentara kita yang dijuluki Macan Asia, berhasil menciptakan pengaruh besar yang membuat gentar negeri peserta perang dunia, Jepang.

Pernahkah kita belajar sejarah untuk berbangga? Sungguh negeri kita ini inspirasi bumi, sungguh bumi tempat kita berdiri ini adalah rumah bagi bibit-bibit perdamaian dunia, sejak dulu dan mestinya hari ini. Jumlah kita yang besar, watak kita yang halus, semangat kerja kita yang bergotong-royong, spirit juang kita yang berapi-api, pondasi hidup kita yang religius, itu benar-benar cocok untuk merangkul warga dunia yang beraneka ragam tabiatnya.

Negeri Besar Dengan Cita-Cita Yang Luruh

Sebab kita tidak bertujuan bernegara satu windu saja,

kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya!

Bernegaralah selama-lamanya!
Merdeka!.. Merdeka!..
Merdekalah selama-lamanya! 

 (Soekarno, dalam Pidato HUT-RI ke 8)

Begitu banyak harapan dan impian di Indonesia masa depan, namun bangsa ini kini mesti dijegal oleh kepentingan putra bangsa sendiri yang dikuasai egoisme buta dan kepentingan sesaat. Darah tumpah pahlawan dan jutaan ide untuk kejayaan seakan pupus dibabat oleh anak-anak bangsa sendiri.

Apa yang akan dirasakan Pangeran Diponegoro yang berjuang dengan totalitas untuk mengusir penjajah ketika beliau melihat dengan mata kepala sendiri meruaknya korupsi dan kolusi yang dilakukan anak cucu generasi mereka sendiri?

Apa yang akan dirasakan Ki Hajar Dewantara yang mengorbankan peluh dan darah untuk membangun pondasi pendidikan Indonesia jika hari ini beliau melihat sendiri rusaknya moral pelajar dan tak tersampaikannya inspirasi perjuangan di masa lalu pada generasi hari ini? Tanyakan pada pelajar, melihat sekolah seperti penjara, melihat guru seperti monster, melihat buku pelajaran bak bertemu tukang sihir.

Negeri ini adalah hasil dari ide besar, diperjuangkan dengan ide besar, dibesarkan dengan ide besar, dan dituangkan pada tiang-tiang pasaknya impian tentang kejayaan dan peradaban yang madani. Namun ternyata di saat yang mestinya kita berangkulan bahu untuk membawa kapal besar Indonesia ini, ada ide-ide licik yang cerdas namun membunuh. Cerdasnya untuk melubangi lambung kapal, cerdasnya untuk mencari eksistensi pribadi, cerdasnya untuk membodohi!

Akankah Negeri ini berhasil menatap masa depan? Bukankah nasi yang selama ini kita produksi sendiri dengan keringat peluh, mulai digantikan dengan ide licik oknum bangsa sendiri yang mengganti beras asli dengan beras plastik? Jika musuh yang melakukannya bisajadi wajar, namun ini ulah anak cucu ibu pertiwi sendiri.

Akankah negeri ini berhasil menuju ketamadunan madani? Padahal parlemen yang semestinya membawa gelombang suara rakyat yang merdeka malah mencabik-cabik hati rakyat dengan borjuisme, menipu rakyat dengan sewenang-wenang lalu mencampakkan mereka pada jurang ketidakpastian.

Maka benar kata Soekarno, “Perjuanganmu akan lebih susah dariku, karena akan kamu lawan adalah bangsamu sendiri!”. Sungguh jika Soekarno kembali melihat di wajah bumi pertiwi ini, ia akan saksikan perkataannya benar. Negara ini melawan bangsanya sendiri, rakyat negeri ini melawan rakyatnya sendiri, generasi yang hidup di wajah negeri ini melontarkan permusuhan pada kawan sejawat dan saudara sendiri.

Negeri besar dengan cita-cita yang rapuh. Negeri yang dibangun dengan ide brilian, dirobohkan dengan ide yang licik. Namun harapan masih ada, masih ada!

Indonesia Rumah Peradaban

Ayo bangsa Indonesia, dengan jiwa yang berseri-seri mari berjalan terus!
Jangan berhenti, Revolusimu belum selesai!
Jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah!
Dan siapa yang menentang sorak dan araknya sejarah, tidak perduli tiada bangsa apapun,

dia akan digiling, dilias oleh sejarah itu sama sekali.

(Ir. Soekarno)

Negeri ini sedang berkecamuk, namun segala permasalahan ini akan menjadi obor generasi baru untuk menyentak dan menggulirkan perubahan sejati. Bukankah sebelum fajar terbit, malam gelap gulita? Bukankah sebelum air pasang, laut seakan surut?

Harapan untuk menyemai kembali generasi berkarakter selalu ada, selalu terpatri dan diusahakan dengan sebaik-baik persiapan. Telah terbit sang fajar dari bilik jiwa para pemuda, mereka tidak akan menyianyiakan jejak sejarah Hatta dan Soekarno, tidak juga Agus Salim dan Hamka. Muara dari alur deras cerita negeri ini adalah kejayaan dan peradaban yang madani.

Ketika bangsa-bangsa barat mulai rontok dan rapuh, generasi muda Indonesia sedang menyergap sunyi, ketika bangsa Cina mulai menggarap sebuah visi menjadi kekuatan dunia, generasi muda Indonesia sedang menerawang bumi lalu berlari kencang menyusul semua pencapaian negeri-negeri penguasa bumi.

Tanda-tanda kebangkitan ini menuai optimisme dari semua lapisan bangsa. Rasa kemanusiaan bangsa ini tumbuh dan mulai menginspirasi penduduk dunia, seperti Warga Aceh yang denga segala ketulusannya menerima saudara seiman mereka dari Rohingya. Rasa mengkawal kebenaran tersemai indah di bilik jiwa bangsa ini, ketika mereka mulai berteriak keras pada dunia untuk membantu Palestina, mengecam segala pendudukan, dan menjadi inisiator perkumpulan-perkumpulan cendekiawan untuk membahas perbaikan dunia.

Di balik segala masalah bangsa ini, hati nurani kita masih bicara, bahkan sedang terasah agar semakin tajam!

Di hari depan nanti, Indonesia akan menjadi rumah kedamaian, bukan sekadar bagi warganya sendiri. Mimpi dan cita-cita pahlawan kita adalah brilian, “Sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan!”, Indonesia semenjak berdirinya tidak membela nasih sendiri, bangsa ini semenjak awal membela kemanusiaan dan saudara-saudara mereka lintas peradaban!

Maka, sambutlah Indonesia, rumah kedamaian bagi seluruh bangsa, simbol persatuan dari berbagai berbagai peradaban. Indonesia Madani, begitulah kita menyebutnya.

Indonesia; Mati atau Madani?

                “Indonesia adalah jembatan emas yang merangkul kebangkitan Asia dan terbangunnya dunia Islam setelah tidur panjangnya”

                Ada syarat-syarat untuk kemenangan, ada pula sebab-sebab mengapa terjadi kehancuran, semua itu adalah ketetapan Tuhan, yang sebenarnya tidak mengandung tanda tanya, justru mengandung berbagai hikmah. Kita dalam kehidupan ini bukan diajak hidup menebak-nebak masa depan yang tidak pasti, bukan juga diundang untuk menyaksikan kegelisahan akan apa yang terjadi di hari dimana kita semakin menua nanti.

Sederhana saja, untuk menjadi Indonesia yang Madani, syarat-syarat kemenangan mesti kita tempuh, jalannya yang terjal mesti kita lalui walau berbadai dan berguruh, samudera tantangan tak bisa tidak haruslah kita arungi walau ombak gemuruh. Bagaimana caranya? Lihat saja sejarah. Sejarah masa lalu akan mengantar kita memindai masa depan.

Satu titik utama peradaban untuk bangun dari tidur panjangnya adalah; kehidupan beragama. Indonesia akan mati jika agama mati, Indonesia akan madani jika agama dijadikan inti. Lihatlah dunia, jika saja semua penduduk Indonesia kembali memeluk Islam dengan sebaik-baik pelukan, menjalani hidup berislam dengan sebaik-baik jalan hidup, tidak salah jika akan lahir sebuah generasi yang mempunyai ketulusan hati, keinginan berbagi, tingginya cita-cita, dan kemampuan membangun asa.

Generasi yang tulus dan murni hatinya, seperti Diponegoro yang dengan tulus melepas kuasa demi perjuangan mengusir penjajah, tanpa pamrih, tanpa ingin diwelas asih. Seperti Ahmad Dahlan yang rela melepas jabatan sebagai Khatib besar demi membela nuraninya untuk meluruskan pemahaman rakyat.

Generasi yang tinggi keinginanya untuk berbagi kedamaian pada dunia, seperti warga Aceh yang tak peduli dunia bilang apa, mereka merasa menjadi manusia seutuhnya karena berkontribusi. Seperti bangsa Indonesia yang gigih menyuarakan kemerdekaan Palestina, tanah para Nabi.

Generasi yang tinggi cita-citanya, seperti Tjokroaminoto, Hasyim Asyari, Ki hajar Dewantara yang bermimpi membangun negeri yang berkualitas manusianya, berdikari dan mewariskan kemandirian pada generasi sepeninggalnya.

Generasi yang pandai membangun asa, seperti Soekarno yang menginspirasi puluhan bangsa untuk merdeka, seperti Muhammad Natsir yang menggerakkan roda umat Islam sedunia, dan Agus Salim yang berkeliling dunia menawarkan ide-ide besar yang bermekar di dunia timur dan barat.

Selamat datang di gerbang Indonesia Madani. [dt]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.