Berita Islami Masa Kini

Indonesia Pernah Gagal ke Piala Dunia Gara-Gara Israel

0

Oleh: Alwi Shahab

Suporter Surabaya yang dikenal sebagai Bonek (Bondo Nekat) telah membuat ulah dan merepotkan petugas keamanan ketika datang ke Bandung guna mendukung kesebelasannya, pada Ahad 24 Januari 2010. Sekitar 7.000 suporter, tanpa bekal uang yang memadai, berbondong-bondong mendatangi Ibu Kota Parahiyangan yang berjarak 680 km.

Di tengah perjalanan, ketika pergi dan pulang, para suporter membuat ulah di tempat-tempat dan kota-kota yang mereka lewati. Seperti, menyerbu pedagang makanan dan minuman tanpa membayar, menjarah, melempari batu, dan membuat kerusakan di kereta api. PT KAI mengumumkan menderita kerugian satu miliar rupiah.

Untungnya, ketika pertandingan antara Persib melawan Persebaya di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Bandung, berjalan aman. Meski untuk itu lebih seribu aparat kepolisian dikerahkan. Sementara, para pedagang dan pemilik warung takut berjualan.

Lepas dari ulah para bonek yang menjurus anarkis, sepakbola merupakan olahraga favorit bangsa Indonesia. Sayangnya, prestasi PSSI makin terpuruk di laga internasional.

Bahkan, melawan Laos yang sampai 1990-an sepak bolanya tidak dikenal, PSSI keok 2-0. Demikian juga saat melawan Vietnam yang sampai 1970-an masih berperang dengan AS.

Prestasi Olahraga Indonesia Melempem

PSSI kini sudah tidak diperhitungkan seperti medio 1950-an dan 1970-an. Demikian juga prestasi kita di bidang olahraga lainnya.

Pada Asian Games XVI di Guangchow, RR Cina, November 2010, Indonesia berada di urutan 15 dengan koleksi 26 medali. Empat medali emas, sembilan medali perak, dan 13 medali perunggu.

Pada AG empat tahun sebelumnya (2006), kita terjun bebas hanya meraih dua emas, empat perak dan 14 perunggu. Sedangkan AG 2014 yang digelar di di Incheon, Korea Selatan, kontingen Indonesia mengumpulkan 20 medali. Rinciannya empat medali emas, lima medali perak, dan 11 medali perunggu.

Sementara, bulutangkis yang pada 1950-an sampai 1980-an milik Idonesia, kini beralih ke RR Cina dan Korea. Padahal, bulutangkis di Cina dimulai ketika pemain-pemain Indonesia lapis kedua hijrah ke negeri leluhurnya setelah terjadi PP 10/1959. Peristiwa rasialis yang menyebabkan ratusan ribu warga Cina hengkang ke RRC, termasuk para pemain bulutangkis.

Bung Karno Gelar Ganefo tanpa Libatkan Israel dan Taiwan

Ganefo pada Agustus 1962 Indonesia menyelenggarakan Asian Games II di Jakarta. Pekan olahraga ini dijadikan ajang bagi Bung Karno untuk memperlihatkan pandangan politiknya.

Meski didesak dan diancam oleh KOI (Komite Olimpiade Internasional), dia tetap tidak mengizinkan Israel dan Taiwan ikut serta. Selaku tuan rumah Indonesia berada di urutan kedua setelah Jepang dengan 21 medali emas, 26 perak dan 30 perunggu.

Ketika KOI memprotesnya, Bung Karno langsung menyatakan Indonesia keluar dari komite itu. Diapun pun menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang oleh Bung Karno dinyatakan sebagai alat perjuangan politik di bidang olahraga dan menandingi OKI.

Ganefo dengan semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur), berlangsung 10 sampai 22 Nopember 1963. Diikuti 2.200 atlet dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa (Timur). Lima rekor dunia dipecahkan oleh atlet RRC dan Korea Utara.

Sepak Bola Indonesia Pernah Ditakuti Dunia

Contoh lain di bidang olahraga adalah Keputusan Presiden (Kepres) No 263 tahun 1963 yang mengharuskan Indonesia untuk menjadi 10 besar dalam bidang olahraga dalam 10 tahun mendatang. Bagi Bung Karno, kejayaan Indonesia di bidang olahraga akan mencuatkan nama negeri ini di dunia internasional.

Ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pemerintah untuk mengembangkan hal ini. Termasuk membuat 30 persen warga negara untuk secara aktif menjadi bagian-bagian dari kegiatan bidang ini.

Pengintensifan program olahraga di sekolah dasar dan pembangunan, termasuk kelengkapan secara materil. Olahraga, menurut Bung Karno, harus menunjang revolusi Indonesia yang menjadi mercu suar di dunia.

Masa keemasan bukan hanya menahan Uni Soviet 0-0 di Olympiade Melbourne, Australia, 1956, nama PSSI juga berkibar di Asia. Prestasi PSSI di era Saelan, Ramang, Djamiat, Liong Houw, dan Kiat Sek pada 1958 menjelang kejuaraan sepak bola piala dunia di prakualifikasi, PSSI berhasil menghajar Cina 2-0 di Jakarta.

Pada pertandingan ulang di Beijing, PSSI kalah 3-4. Untuk menentukan juara, pertandingan ketiga diadakan di negara netral, Birma. Kedua kesebelasan bermain imbang 0-0 dan PSSI dinyatakan sebagai juara.

Tapi, kemudian prestasi itu terhenti. Bukan karena kalah. Tapi, lagi-lagi soal politik.

PSSI menolak bermain melawan Israel. Karena FIFA menolak usul Indonesia agar pertandingan diselenggarakan di negara netral tanpa lagu kebangsaan, maka gagallah Indonesia ke Piala Dunia.

Prestasi Sepak Bola Indonesia Hancur karena Bandar Judi

Pada 1953 dalam PSSI Far Eastern Tour di Manila, PSSI menang 8-0 atas Football League. Di Hongkong yang kala itu memiliki regu-regu sepak bola terkuat di Asia, PSSI memencundangi Hongkong 4-2 dan Hong Kong All Chinese 5-0.

Lalu bagaimana dengan Thailand dan Vietnam yang selalu mencundangi PSSI? Saat itu, awal 1950-an, baru dalam taraf pembinaan. Sedangkan Arab Saudi dan Jepang belum mengenal sepak bola.

Lalu bagaimana dengan kekuatan negara-negara Afrika yang pemain-pemainnya kini banyak berlaga di Liga Eropa? Sampai 1960-an, negara-negara Afrika masih dijajah.

Sepak bola Indonesia mulai menurun ketika seorang bandar judi dari kota bernama Lo Bie Tek menyuap para pemain kita. Kini disinyalir skor pertandingan Liga Indonesia bisa diatur karena adanya wasit-wasit yang menerima suap.

Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan dan harus ada tindakan tegas terhadap mereka. Bagaimanapun sepak bola Indonesia harus bisa bangkit kembali.[rol]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.