Home >> Kisah >> Jalan Terjal Penyebar Risalah

Jalan Terjal Penyebar Risalah

Oleh: Haedar Nashir

Namanya Walid bin Mughirah. Ia sosok terhormat di kalangan kaum Quraisy pada masa Jahiliyah. Kaya raya, ahli sastra, dan ahli berdiplomasi. Abu Jahal pun sangat hormat kepadanya.

Walid termasuk paman sepupu Nabi Muhammad, senasab pula dengan Abu Jahal. Suatu kali, para petinggi dan kaum Quraisy bermufakat mengutus Walid menemui Muhammad.

Tugas utamanya merayu agar putra Abdullah itu menghentikan risalah kenabiannya.  Ini dilakukan setelah pendekatan jalan ancaman dan kekerasan tidak mempan terhadap Nabi akhir zaman itu.

Setelah bertemu Muhammad, Walid berkata, “Wahai Muhammad, apa gerangan yang telah terjadi? Apa yang sedang engkau perjuangkan? Perjuanganmu telah memecah belah kami bangsa Arab. Perpecahan antara ibu, ayah, dan anak-anak, antara suami dan istri, serta sesama kabilah.’

Walid melanjutkan, ”Kalau engkau, Muhammad, ingin kemuliaan akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin utama kami. Sekiranya engkau ingin kekuasaan, kami angkat engkau menjadi penguasa kami di jazirah ini. Kalau engkau ingin harta, akan kami kumpulkan seluruh kekayaan sehingga engkau menjadi yang terkaya. Kalau engkau terkena penyakit, akan kami kumpulkan tabib terbaik. Pendek kata, Apa yang kamu inginkan, wahai Muhammad, akan kami penuhi. Hanya satu permintaan kami, yaitu hentikanlah perjuangan dakwahmu itu!” ujar Walid.

Muhammad tersenyum dan balik bertanya kepada Walid, ”Sudahkah engkau sampaikan, wahai pamanku?” Sejenak diam, kemudian Nabi membacakan Alquran surah Fushilat ayat 1-6.

Alquran yang Menakjubkan

Walid tertegun setelah mendengar bacaan Alquran yang sangat mendalam dan menakjubkan. Dia tidak berkata-kata lagi kepada Muhammad seraya meminta keponakannya itu menghentikan bacaan yang baginya sangat menggetarkan hatinya. Dia langsung ke kaumnya yang tengah menunggu di Darr al-Nadwah.

Setiba di al-Nadwah, Walid berkata di hadapan kaum Quraisy, “Demi Tuhan, aku baru saja mendengarkan perkataan-perkataan Muhammad. Menurutku itu bukan perkataan manusia biasa dan juga bukan dari jin. Demi Allah, sungguh perkataannya sangat baik, susunan katanya sangat indah. Sungguh perkataan yang sangat agung dan tidak ada yang mampu menandingi keagungannya.’

Kisah bersejarah itu tertulis dalam Nur al-Yaqin karya Syekh Hudlary Beik. Singkat cerita, Walid dan kaum Quraisy gagal total untuk menghentikan perjuangan dakwah melalui cara persuasi dan iming-iming kehormatan, jabatan, harta, dan segala fasilitas hidup yang serbanyaman.

Cara negosiasi dan diplomasi canggih seperti itu biasanya sukses menghipnotis banyak para pejuang dan pemimpin lain sehingga berbelok arah perjuangan dan tampil menjadi sosok-sosok pragmatis atau oportunistis.

Realitas konsumerisme para pemimpin umat pada era baru saat ini sungguh terjal sebagaimana perjuangan Nabi. Godaan kuasa takhta, harta, dan pesona dunia sama. Namun, ruang kehidupan dan cara godaan itu hadir sungguh berbeda, tidak lagi konvensional.

Dunia pasar bebas telah menciptakan budaya dan alam pikir yang setiap orang terangsang untuk masuk dalam beragam perangkapnya sehingga tahu-tahu sudah berada dalam permainan dunia yang sarat pesona itu.

Pesona Duniawi

Empat pesona duniawi yang ditawarkan Mughirah kepada Nabi secara otomatis hadir sebagai realitas yang datang sendiri. Laksana kehadiran berbagai mal di setiap sudut kota yang menjadi lambang prestise sekaligus gaya hidup siapa pun yang merasa menjadi masyarakat modern.

Godaan dan tantangan itu seolah tidak dihadirkan, tetapi hadir melebur dalam denyut nadi kehidupan warga dan elite di lapisan sosial apa pun. Inilah dunia pasar bebas berwajah konsumerisme.

Politik dan kehidupan berbangsa pun menjadi pasar besas di mana setiap orang saling bertransaksi dengan mudah dan meluas. Transaksinya sangat lumrah, siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana caranya.

Para elite dan pemimpin saling berseliweran untuk memainkan berbagai transaksi, terbuka maupun terselubung, langsung maupun melalui perantara. Para broker menyebar di setiap sudut negeri yang ikut memainkan pasar politik dan kehidupan semakin liar dan berongkos tinggi.

Politik menjadi padat modal dengan pengendali para pialang raksasa. Para pemimpin maupun umat sungguh menapaki jalan terjal di tengah kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang sarat transaksi dan berorientasi pasar bebas itu.

Libido mobilitas diri makin terpacu di tengah berbagai ragam lalu lintas kehidupan yang konsumeristis dan bergaya mal atau Mc Donaldisasi. Jika tak pandai memosisikan dan memerankan diri dengan nurani dan pikiran yang jernih serta berada di garis lurus perjuangan dakwah, akan terbawa arus serta tercerabut dari akar umat dan idealisme kerisalahan.

Isu Terorisme dan Radikalisme

Jalan terjal kehidupan saat ini seperti menghadapi lingkaran perputaran jet coster di pusat-pusat rekreasi kehidupan. Setiap orang berbondong-bondong ingin menaiki atau meraihnya dengan kegembiraan yang total.

Anak-anak muda bergairah ingin bermain ayunan kekuasaan. Awalnya positif dan penuh idealisme, lama-kelamaan berbelok arah jalan. Di antara mereka berubah perangai, tidak sedikit terjerat korupsi dan masuk penjara.

Politik keagamaan pun sarat ananiyah hizbiyah yang kehilangan misi dakwah dan muruah utama, kecuali menggenggam hasrat kuasa. Para sosiolog menyebut kehidupan sarat transsaksi pasar bebas itu sebagai consumer society.

Masyarakat dibentuk menjadi penikmat segala barang yang dijual di pasar kehidupan dari yang berharga murah hingga mahal. Agama pun menjadi barang komoditas paling laris. Para produser dan brokernya adalah tangan-tangan tak terlihat dalam dunia pasar bebas yang masif.

Para tokoh dan komunitas umat tiba-tiba harus menerima banyak pesanan politik, menjadi sekadar pengekor lazimnya para konsumen awam di pasar bebas. Malah, tidak sedikit yang menjadi sales, tanpa sadar bahwa barang yang diperdagangkan itu banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Masyarakat konsumen selain lemah daya kritis, sekaligus penuh nafsu untuk mengonsumsi apa pun yang sudah menjadi barang komodifikasi. Isu terorisme, radikalisme, deradikalisme, ISIS, inklusivisme, pluralisme, dan banyak diksi laris di pasar bebas bukan hanya mudah diterima tanpa kesadaran kritis, melainkan juga menjadi barang kuliner yang diburu banyak pihak.

Muncul seloroh satir, kiai khos berubah menjadi kiai cash. Banyak orang dibikin lapar akan barang-barang mewah dan laris di pasaran itu. Isu-isu laris itu menjadi proyek memikat konsumen.

Mereka yang kritis dan tidak mengonsumsi atau tidak menjadi penyalur akan terasingkan. Itulah dunia konsumerisme mutakhir yang masif! Berjiwa hanif.

Para pemimpin umat pada era pasar bebas kehidupan saat ini penting merenungkan kembali posisi dan perannya yang luhur dan mulia sebagai pembawa dan penyebar misi kerisalahan Nabi.

Terhindar dari LGBT

Menjadi warasat al-anbiya yang autentik sebagaimana sikap istiqamah Nabi Muhammad SAW dari Walid bin Mughirah. Misi suci menyempurnakan akhlak mulia dan rahmatan lil alamin harus ditunaikan dengan tulus dan autentik.

Tidak menjadi retorika dan komoditas politik keagamaan, apalagi terbawa arus oleh dunia kehidupan konsumerisme yang masif dan memerangkap idealisme kerisalahan.

Umat saat ini sungguh memerlukan bimbingan yang tulus dari para penyebar risalah di setiap sudut negeri agar hidup mereka berada di jalan lurus kebenaran, kebaikan, dan moral yang utama.

Mereka jangan seperti anak ayam yang kehilangan induknya sehingga salah jalan menjadi pengikut Gafatar, gerakan yang menyimpang, narkoba, LGBT, dan apa pun yang niatnya ingin mencari kanopi suci, tetapi yang ditemukan realitas semu.

Di antara umat tidak jarang gampang tersulut percikan api provokasi sehingga bertindak salah yang merugikan siapa saja. Umat tidak jarang menjadi ladang komoditas politik yang murah meriah pada setiap kontestasi demokrasi di negeri ini.

Mereka tak terdidik dalam budaya politik yang benar karena dahsyatnya politik uang dan kultur menerabas. Mereka bahkan tak tahu yang benar ketika harus menjatuhkan pilihan politik.

Semua terjadi karena para pemimpinnya saling berbeda arah dan pilihan, tidak sedikit yang menjadi Pak Turut dan tukang stempel para calon dengan keyakinan diri berlebih. Sebagian elite umat pun dengan mudah terpesona dan menjadi pendukung fanatik sosok-sosok instan yang memukau di ruang publik.

Politik umat Islam yang mayoritas akhirnya compang-camping bagaikan buih di lautan, entah bermuara ke mana dan hingga kapan. Para penyebar dan pemimpin risalah dakwah dirindukan hadir menjadi sosok-sosok autentik yang nirpamrih kuasa, materi, dan hasrat konsumeristis yang tak berkesudahan.

Menjadi pengayom sesama umat yang berbeda pandangan sekalipun. Penebar benih-benih damai, santun, dan keadaban seraya menghilangkan kebiasaan menabuh genderang seteru dengan sesama. Menyuarakan ukhuwah yang tulus dan jujur, bukan ukhuwah kamuflase dan penuh topeng.

Membangkitkan daya hidup optimistis dan berkemajuan. Menabur jiwa kenegarawanan di tempat manapun berada sehingga elite-elite negeri pun menirunya dengan rasa hormat. Ala kulli hal menjadi pemimpin dan penyebar risalah berjiwa hanif sebagaimana uswah hasanah Nabi Muhammad yang meruntuhkan keangkuhan Walid bin Mughirah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pria Berkursi Roda Ini dianggap Pengemis, Ternyata Dia Adalah…

Ada kisah menarik terjadi di Masjid Tun Abdul Aziz atau biasa disebut ...