Berita Islami Masa Kini

Karena Aku Butuh Dia

0

Dalam sebuah dialog, seorang anak bertanya kepada ibunya, “Apakah ibu mencintai ayah hingga mampu menikah dan hidup bersama lebih dari 50 tahun dengan ujian yang berat, tetapi jarang sekali terjadi cekcok dan konflik?” Ibu pun menjawab, “Nak. Ibumu sebenarnya tidak tahu apakah cinta dengan ayahmu ataukah tidak, karena ibumu tak bisa mendefinisikan cinta. Tapi, yang jelas ibumu ini butuh ayahmu untuk senantiasa mengingatkan ibadah, hingga ibu bertemu Allah.”

Dialog itu mengagetkan, tapi memberi sarat makna bahwa pernikahan yang senantiasa dikatakan harus dilandasi cinta sebagai puncak rasa dalam mengelola kekuatan untuk bersama terkalahkan dengan sebuah perasaan yang lain, yang jarang kita perhatikan yaitu “membutuhkannya untuk beribadah.”

Itulah yang justru lebih kuat dari hanya rasa cinta dan sayang. Sebab, cinta bisa luntur dan sayang terkadang bisa berkurang ketika kita menemukan banyak kekurangan dari pasangan kita. Namun, tapi rasa membutuhkan untuk saling bersama beribadah kepada Allah sembari saling mengkuatkan dalam ketaatan adalah hal yang susah hilang dan akan ada selama suami-istri hidup beribadah kepada Allah.

Rasa butuh tidak muncul dengan pandangan mata layaknya cinta yang mewujud dengan sebuah hal “dari mata turun ke hati.” Rasa ini pun tidak hadir dengan memberi dan memahami yang membidani rasa sayang, tapi ia lebih dahsyat dari itu semua. Sungguh, rasa membutuhkan itu muncul ketika pasangan saling mencintai Allah dan memahami bersama bahwa ibadah itu adalah anak tangga menuju kecintaan kepada Allah.

Rasa butuh yang melahirkan kekuatan untuk bersabar dan bersyukur bersama hingga puluhan tahun. Rasa itu tak hancur karena kekurangan dan tak berkeping hanya karena beberapa kesalahan. Rasa itu kuat dan kokoh karena rasa itulah yang menjadikan pasangan hidup beribadah hingga mereka dijaga Allah sebagaimana mereka menjaga agama Allah dalam setiap langkah kehidupan mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di waktu malam, lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)

Inilah gambaran rasa butuh, rasa butuh untuk sholat malam bersama, rasa butuh untuk saling menasehati, rasa butuh untuk memperbaiki hidup supaya diridhai Allah, dan hal lainnya. Rasa butuh ini betul-betul yang menjadikan kehidupan menjadi anugerah terindah dalam hidup; karena rasa butuh itu memberi makna bahwa nikah itu bukan hanya semata hidup bersama, tapi juga ibadah bersama.

Nikah adalah bersatu dalam taat, mengalah dalam ego, dan melangkah bersama dalam amal shaleh. Sebab, nikah bukan hanya kesenangan sesaat tapi merupakan pengorbanan dalam meraih ridha ilahi.

Rasa butuh hadir bersama dengan tumbuhnya cinta kepada Allah, ia hadir menyeruak bersama keinginan kuat untuk mendapatkan ridha ilahi. Rasa butuh hadir ketika telah tumbuh rasa mencintai Allah yang disertai kesadaran bahwa mencintai Allah berarti harus hidup bersama orang yang mencintai-Nya.

Rasa butuh itu layaknya benih yang tertanam dalam tanah kehidupan hati yang menumbuhkan pohon indah yang berbuah manis dan berakar kuat.

Jadilah orang yang saling membutuhkan dalam ibadah ketika mengarungi bahtera pernikahan. Bagi yang belum menikah, carilah orang seperti itu. Jatuhkanlah pilihan kepada seseorang karena membutuhkanya untuk beribadah kepada Allah dan bersama dengannya dalam ketaatan.

Ustadz Oemar Mita, Lc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.