Home >> Uncategorized >> Kekuatan Ikhlas

Kekuatan Ikhlas

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

ALKISAH, di sebuah desa hiduplah seorang ulama yang sangat disegani meski secara ekonomi pas-pasan. Dia telah berusaha mengajak penduduk di sekitarnya untuk menyembah Tuhan dan meninggalkan tradisi serta kepercayaan lama.

Selama ini mereka suka menyembah gunung dan pohon-pohon besar karena diyakini keduanya memiliki kekuatan gaib yang bisa menyejahterakan maupun mencelakakan penduduk sekitar. Suatu hari ulama tadi mendapat laporan, tak jauh dari desanya terdapat sebuah pohon yang sering didatangi penduduk untuk membuat sesaji dan ritual.

Mendengar berita itu, sang ulama mengambil parang dan bergegas ke sana untuk memberikan khotbah, kalau perlu menebang pohon itu. Di tengah jalan, rupanya setan yang menjelma menjadi pemuda yang gagah dan kekar.

Dia gembira kalau banyak warga desa yang jadi temannya. “Mau pergi kemana ustaz,” tanya pemuda tadi. “Aku akan mengingatkan penduduk desa agar meninggalkan kepercayaan sesat dan aku akan tebang pohon yang membuat orang menjadi musyrik,” jawab sang ustaz.

“Aku pemilik dan penjaga pohon itu. Siapapun yang hendak menebang mesti melawan aku dulu,” gertak sang pemuda. Setelah ulama tadi mencoba berbicara baik-baik tidak mempan, akhirnya terjadilah perkelahian fisik, antara ustaz yang kecil dan kurus melawan pemuda yang kekar dan gagah.

Akhir perkelahian, pemuda tadi kalah. Ustaz kemudian mendatangi dan menasihati penduduk yang sedang menyembah pohon, agar membubarkan diri.

Selang beberapa hari, rupanya masih saja terjadi ritual menyembah pohon. Lagi-lagi sang ustaz pergi memberi khotbah. Di tengah jalan, setan yang menjelma menjadi pemuda kekar dan gagah mencegatnya, membujuk agar jangan menebang pohon sambil menyodorkan uang.

Ustaz marah, merasa terhina, sehingga perkelahian tidak terhindarkan. Lagi-lagi, pemuda yang tampaknya lebih kekar dan perkasa itu kalah. Penduduk kembali dinasihati dan kalau masih mengulangi pohon akan ditebang.

Ustaz tadi merasa lega karena telah berusaha berdakwah mengajarkan tauhid, mengajak warganya ke jalan yang benar, hanya menyembah Allah. Namun sungguh kaget, suatu hari ada berita penduduk lain berdatangan untuk melakukan ritual serupa.

Demikianlah, di tengah jalan ustaz sudah mengira, pasti seorang pemuda akan mencegatnya lagi. Dalam hati berbisik, berapa banyak uang kompromi yang mau ditawarkan kali ini. Kalau saja tawarannya di atas Rp 25 juta, lumayan jugalah untuk perbaiki rumah, pikir ustaz tadi.

Memang benar jumlah penduduk yang menyembah pohon masih banyak. Maka dicabutlah parangnya untuk menebang pohon itu. Namun pemuda tadi menghadang sehingga terjadi perkelahian, disaksikan orang banyak.

Nasib kurang beruntung, ustaz kali ini kalah. Dia pulang dengan wajah merunduk. Sampai di rumah dia merenung. “Mengapa dulu aku menang dengan mudahnya melawan pemuda itu, tetapi mengapa sekarang aku kalah,” keluhnya.

Ia lalu ambil air wudu, terus salat mohon ampun dan petunjuk pada Tuhan. Dalam salat itu dia sadar dan mendapat jawaban mengapa dia kalah. “Perkelahian pertama dan kedua aku menang karena ikhlas, semata karena Allah. Sedangkan yang terakhir dalam hatiku sudah ternoda dan tergoda membayangkan uang kompromi atau sogokan dalam jumlah yang lebih besar, sehingga keikhlasanku tidak bulat, bahkan rusak. Aku tidak lagi sakti, bahkan jadi tertawaan syaitan dan konco-konconya meski aku seorang ulama.”

Masih ada kisah lain yang juga menjelaskan kekuatan dan keajaiban ikhlas. Di suatu desa terdapat seorang ulama yang juga disegani warganya. Karena didorong oleh cintanya pada ustaz, ada seorang warga desa yang menghadap minta didoakan sambil membawa oleh-oleh singkong dari kebunnya sendiri.

“Ustaz, ini sekadar hadiah tak seberapa nilainya, sebagai rasa cinta dan syukur, saya membawa singkong dari hasil panen kebun sendiri. Semoga ustaz bersedia menerima hadiah ini,” ujarnya warga kepada ulama.

Sang ulama terharu pada kepolosannya, sehingga menggerakkan hatinya untuk membalas dengan memberi hadiah ” Terima kasih kunjunganmu dan hadiah yang engkau bawa. Semoga ke depan panennya semakin banyak. Sebagai rasa terima kasih, terimalah hadiah dari saya, seekor kambing ini. Mudah-mudahan ke depan akan beranak-pinak yang banyak dan sehat-sehat”, kata ulama.

Selang beberapa hari rupanya ada tetangga yang tahu kebaikan ustaz tadi. Pagi-pagi dia bertamu ke rumah ustadz sambil membawa hadiah seekor kambing. “Semoga ustaz akan membalasnya dengan memberi hadiah seekor sapi pada saya”, bisiknya dalam hati.

“Terima kasih atas kebaikan hatimu. Sekadar sebagai tanda terima kasih, ini saya hadiahkan sekeranjang singkong, pasti istri dan anak-anakmu akan senang,” jawab ustaz sambil tersenyum. Dengan hati kecewa, ia pulang sambil membawa sekeranjang singkong.

Dia menyesal, alih-alih mendapat hadiah sapi yang dia bayangkan, kambingnya malah ditukar dengan singkong. Dua kisah tadi kelihatanya sepele. Namun ada pelajaran yang amat berharga.

Keikhlasan merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan hidup. Ikhlas adalah energi dan cahaya hati. Tanpa keikhlasan daya hidup akan melemah dan dunia menjadi pengap. [tribun]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Di Kota Palembang, Ada Alquran yang Berusia 250 Tahun

PALEMBANG — Ustaz Kemas Syarifuddin memperlihatkan koleksi Alquran miliknya yang berumur 250 ...