Berita Islami Masa Kini

Ketika Bahasa ‘Elu-Gue’ Kalahkan ‘Ane-Ente’

0

Oleh: Alwi Shahab

Kata lu dan gue sekarang ini sudah menjadi bahasa gaul. Tidak lagi diucapkan di kampung-kampung, tapi sudah menjadi bahasa sehari-hari para selebriti. 

Kalau kita menonton infotainment di televisi, lu dan gue menjadi ucapan saling sapa di antara mereka. Mungkin banyak yang tidak tahu kata yang berarti ‘kamu’ dan ‘saya’ ini berasal dari bahasa Cina.

Tapi orang Cina di Glodok mengatakan, mereka membahasakan diri dengan sebutan owe dan engko. Lu dan gue memang sudah mengalahkan ane dan ente yang punya arti serupa dalam bahasa Arab. Ane dan ente hingga kini masih digunakan di kampung-kampung Betawi.

Dominasi Cina tidak hanya di bidang bahasa. Untuk bidang kuliner, pengaruh bahasa Cina untuk berbagai jenis makanan dan sayuran masih kental hingga sekarang. Seperti bakso, siomay, dan bakpau yang berasal dari bahasa Cina. 

Sampai 1960-an orang menjauhi makanan ini karena para pedagangnya keturunan Cina. Seperti di Kampung Arab, Pekojan, bila tukang bakso dan siomay lewat akan ditimpuki. 

Maklum, kala itu makanan ini terbuat dari daging babi. Kini, menjadi tren para muda-mudi untuk bersama pacarnya ngebakso. Toge, sawi, dan lobak juga berasal dari bahasa Cina. 

Dan masih ratusan lagi kata-kata Cina yang sudah menjadi ucapan sehari-hari. Termasuk uang segobang (2,5 sen), cepek (seratus), seceng(seribu).

Cap Go Meh, Puncak Kemeriahan Imlek

Perayaan Imlek tahun ini bisa dibilang cukup meriah. Barongsai bermunculan di mana-mana. Di hotel, mal, dan pusat perdagangan. Perayaan baru akan ditutup pada acara Cap Go Meh atau malam ke-15 Imlek. 

Di tempo doeloe, Cap Go Meh berlangsung dari malam hingga dini hari. Semacam festival fiesta di Brazilia. 

Di Jakarta, Cap Go Meh berlangsung lima malam berturut-turut. Mulai dari Glodok, malam berikutnya di Senen, Jatinegara, Palmerah, dan Tanah Abang. 

Masih belum puas dengan keramaian ini, Cap Go Meh kemudian pindah ke Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Di tiap tempat acara dimulai dari vihara dengan menggotong Tepekong diiringi musik gambang keromong dengan penari-penari cokek yang menari-nari sepanjang jalan.

Kebudayaan Cina ini sudah berlangsung ratusan tahun. Hanya menghilang di masa Orba. 

Batavia Miliki Warga Keturunan Terbesar di Jawa

Dalam tulisan orang Belanda disebutkan, ketika serombongan kapal VOC mampir ke Sunda Kalapa pada 13 November 1596, mereka menjumpai adanya perkampungan Cina. Letaknya di sebelah timur Kali Ciliwung. 

Mereka mengusahakan persawahan dan penyulingan arak. Bagi para awak kapal saat berlabuh di Sunda Kalapa mengidamkan untuk meminumnya.

Jumlah warga Cina bertambah banyak ketika terjadi imigrasi dari Banten dipimpin Souw Beng Kong, atas bujukan Gubernur Jenderal JP Coen. Sensus 1930 mencatat ada 78.817 orang Cina berdiam di kota dari jumlah penduduk Cina di Batavia 138.098 orang. 

Batavia memang memiliki penduduk Cina terbesar di Jawa. Disusul Surabaya dan Semarang.

Shipoa, Kalkulator dari Cina

Aneka budaya lama keturunan Cina adalah shipoa. Inilah lambang ketahanan budaya orang Cina. 

Alat yang terbuat dari kayu dan bambu ini digunakan sebagai alat bantu menghitung, termasuk mengurangi, menjumlah, mengali, dan membagi. Meski ada kalkulator, yang kemudian muncul komputer yang lebih canggih, shipoa tetap digunakan. Benda ini tidak pernah rusak dan direparasi.

Shipoa sekaligus perlambang keuletan orang Cina dalam berbisnis. Tidak semua orang Cina dapat menggunakan shipoa. 

Umumnya, Cina yang disebut singke Cina yang langsung datang dari daratan Tiongkok dan pandai memainkan alat penghitung ini. Ketika di kampung-kampung banyak warung Cina, kasirnya menggunakanshipoa. 

Hingga dengan cepat belanja sebanyak apa pun mereka hitung tanpa ada kesalahan. Kini, shipoa dihidupkan kembali sebagai ilmu matematika terutama untuk anak-anak. Entah bagaimana shipoa dalam bahasa preman diartikan ngebohong. 

“Lu jangan shipo’ain gue, ye.” Itu artinya jangan membohongi saya.

Warga Keturunan Cina Kuasai Perniagaan

Ketika membangun Batavia, JP Coen mengangkat Souw Beng Kong (SBK) sebagai pemimpin kelompok Cina di Batavia setelah ia bersama pengikutnya antara 200 sampai 300 orang dirayunya. SBK ditugaskan untuk memungut pajak kepala warga Cina yang dikenakan setiap bulan, sesuai peraturan yang dikeluarkan VOC 9 Oktober 1619. 

Kala itu warga mengikuti kebiasaan di negerinya. Rambut bagian depan dicukur licin (tiap dua pekan), bagian belakang dibiarkan terurai dan dikepang. Ini sesuai dengan kebiasaan Dinasti Ming saat menguasai Cina. 

Sementara di bidang niaga dengan membanjirnya barang-barang produk Cina, pada 1 Oktober 1624 perolehan pajak di bidang niaga dikenakan pada berbagai kegiatan. Menurut sejarawan Mona Lohanda, yang juga anggota staf Arsip Nasional RI, pajak tersebut di antaranya meliputi pajak pasar, pemotongan hewan, penjualan arak dan minuman keras, penjualan dan impor tembakau, pengambilan sarang burung, penebangan kayu, penangkapan ikan, sampai kepada tol jembatan dan penyeberangan sungai.

Sejak awal bermukim di Batavia, orang Cina senang banget akan hiburan. Tidak ayal lagi, bagi VOC ini merupakan pemasukan uang bagi kas VOC. Seperti dituturkan Mona Lahonda, ada pajak untuk rumah judi, rumah madat, dan sejumlah pajak pemasukan uang bagi pendapatan kota Batavia.

Stadhuis atau Balai Kota Batavia yang kini menjadi Museum Sejarah DKI Jakarta, pernah berfungsi sebagai pasar. Pinggir lapangan sebelah timur seluruhnya dipenuhi oleh kios-kios pedagang Cina. 

Pojok sebelah barat agak ke utara dekat Heerenstraat (sekarang Jalan Pangeran Jayakarta) sebagai pasar pakaian, Kleedenpasar. Pada 1690 didirikan pasar cita/bahan pakaian, Sitsenpasar di tempat lain. Sejak itu pasar dekat Stadhuis tidak berfungsi lagi.[rol]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.