Home >> Internasional >> Meninjau Praktik Syariah Pada Perbankan Syariah di Malaysia

Meninjau Praktik Syariah Pada Perbankan Syariah di Malaysia

Perkembangan perbankan di zaman modern ini sangatlah pesat terutama perbankan syariah tercermin sejak didirikan perbankan syariah pada tahun 1963 dan mulai berkembang luas sejak 1970-an hingga ke penjuru dunia. Karena dalam perbankan syariah ini banyak sekali kebaikan yang dapat diambil atau kata lain adalah keberkahan misalkan pada krisis moneter tahun 1998 di mana pada tahun tersebut terjadi banyak instansi perbankan yang jatuh (collapse) akan tetapi tidak terlalu berdampak besar pada perbankan syariah misalkan bank muamalat. Meskipun dalam konteks syariah, tetap harus ditelusuri atau ditinjau mengenai konsep syariah yang dijalankan oleh perbankan tersebut. Karena ada beberapa perbankan syariah yang tidak seutuhnya mempraktikkan konsep syariah yang telah di standarisasikan. Dalam hal ini perlu kita ketahui bahwa kebijakan-kebijakan atau standardisasi yang telah di tetapkan tidak semua perbankan syariah menaatinya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan tinjauan syariah terhadap perbankan syariah. Dari pembahasan sebuah jurnal yang telah diteliti oleh Mohd Hairul Azrin Haji Besar, Mohd Edil Abd Sukor*, Nuraishah Abdul Muthalib dan Alwin Yogaswara Gunawa berobjek pada perbankan syariah di negara Malaysia yaitu Bank Islam Malaysia (BIMB) dan Bank Muamalat Malaysia (BMMB). Penelitian ini merupakan penelitian pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis bagaimana Tinjauan Syariah dan laporan Syariah dipraktikkan di Malaysia. Sumber -sumber informasi yang meliputi standar AAIOFI, standar MASBi, laporan Tahunan Bank dan standar hukum. Peneliti akan memeriksa jika ada kesenjangan harapan antara standar yang dikeluarkan oleh AAOIFI dan praktik nyata Tinjauan Syariah di bank syariah. Dari temuan tersebut, peneliti akan memberikan beberapa rekomendasi untuk perbaikan Syariah ulasan dipraktikkan di Malaysia.

Sepanjang perjalanan perbankan syariah tidak terlepas dengan dewan pengawas syariah (SSB) yang bertanggung jawab atas tinjauan syariah IFI atau lembaga keuangan syariah di negara Malaysia. Di mana IFI diharapkan untuk melakukan transparansi mengenai operasional yang telah dilakukannya kepada masyarakat seperti pencatatan keuangan yang harus sesuai dengan standar syariah. Dan seberapa besar keefektifan tinjauan syariah yang telah dilakukan oleh kedua bank tersebut sehingga dapat dikatakan perbankan syariah yang bersih yaitu tidak ada unsur-unsur riba di dalamnya. Dan melakukan audit syariah. Di Bank Islam Malaysia dan Bank Muamalat Malaysia dan lembaga keuangan syariah lainnya di anjurkan untuk membentuk sebuah komite syariah yang bertujuan untuk meninjau apakah konsep yang dijalankan sesuai dengan syariah atau tidak sebagaimana yang telah dikeluarkan dari pedoman GPS-1.

Akan tetapi dalam perbankan Malaysia ini komite syariah masih memenuhi persyaratan yang minimum dalam pelaporan komite syariah. Dan dalam regulasinya sesuai dengan standar AAOIFI yang merekomendasikan adanya beberapa prosedur yang harus di tempuh dalam meninjau konsep syariah yang sesuai yaitu melalui perencanaan. Sehingga dalam prosedur perencanaan ini memastikan adanya tinjauan syariah yang sistematis, tepat waktu, berisi fatwa, keputusan dan opini yang akurat sesuai syariah di muat di rincian perencanaan ini. Selanjutnya melakukan eksekusi yang bertujuan untuk mendapatkan kontrol perencanaan dan kepatuhan manajemen perbankan terhadap syariah. Lalu membuat dokumentasi kesimpulan tinjauan dan laporan penyusunan tinjauan syariah yang dapat digunakan untuk pihak lain misalkan pemegang saham sehingga pemegang saham dapat menilai sejauh mana pertumbuhan perusahaan yang telah dimilikinya sesuai dengan ketetapan syariah yang berlaku. Dan digunakan untuk rapat umum dan laporan tahunan IFI.[dt]

x

Check Also

Panglima TNI Yakin Tak Ada Upaya Kudeta, Lain Lagi Kata Pulisi…

Trenmuslim.web.id– Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, hingga saat ini proses penyidikan ...