Home >> Opini >> Menjadi Cinderella, Tidak Bergantung pada Peri

Menjadi Cinderella, Tidak Bergantung pada Peri

Oleh : avniesuhayla@yahoo.co.id

KETIKA kita mendengar cerita tentang Cinderella pasti dibenak kita diselimuti dengan cerita sedih tentang penderitaan seorang gadis yang disiksa oleh ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Kemudian ditolong oleh seorang peri yang mengubah Cinderella menjadi seorang putri cantik dalam waktu semalam untuk datang ke pesta seorang pangeran yang sedang mencari calon istri. Namun, malangnya Cinderella harus kembali meninggalkan istana pangeran sebelum jam 12 malam, sebagai syarat dari peri yang merubah kondisinya menjadi seorang putri dalam semalam. Walau badai menghadang karena gangguan ibu tiri dan saudara-saudara tirinya, akhirnya Cinderella bisa dipertemukan kembali dengan pangeran lewat sebuah sepatu kaca yang tertinggal di istana pangeran pada malam diadakannya pesta. Setelah Pengeran mengetahui pemilik sepatu kaca tersebut adalah Cinderella yang dulu pernah bertemu dengannya, Pengeran pun langsung jatuh cinta dan melamar Cinderela untuk menjadi istrinya, akhirnya “Pangeran dan Cinderella hidup bahagia selama-lamanya..” THE END

Penggalan cerita diatas, mungkin cukup menggambarkan pemikiran orang-orang barat terhadap kehidupan ini. Selain memang kisah Cinderella tersebut dibuat oleh mereka, tanpa kita sadari kisah itu banyak mempengaruhi pemahaman banyak orang di dunia, termasuk orang muslim yang membaca atau menonton kisahnya. Seolah-olah bahwa kehidupan itu bisa diraih dengan cara-cara yang mudah, dengan sebuah proses yangpragmatis, bahkan yang lebih berbahaya Cinderella rela mencapai kebahagiaannya dengan bantuan makhluk ghaib-seseorang yang dikatakan peri- yang dalam islam termasuk dosa besar karena melakukan aktivitas syirik. Ditambah lagi, kisah Cinderella tersebut mengajarkan kita pada kebahagiaan yang bertumpu di dunia saja, seakan-akan dunia adalah kehidupan yang kekal dan tidak ada kehidupan setelahnya.

Berbeda dari kisah Cinderella ala Barat pada umumnya, ternyata ada sebuah kisah Cinderella yang serupa namun memiliki ending cerita dan pesan akhir yang sangat berbeda. Penasaran? Begini ceritanya…

Pada suatu hari saya mendengar seorang ustadz bercerita kepada muridnya, sebuah cerita tentang Cinderella yang ending ceritanya sangat berbeda dari kisah Cinderella pada umumnya. Ternyata kisahnya diberikan tambahan cerita. Sebelum beliau mengakhiri cerita dengan kalimat, “akhirnya Pangeran dan Cinderellah hidup bahagia selama-lamanya”, beliau menambahkan beberapa kalimat sebelum kalimat tersebut.

Jika dalam kisah Cinderellah a la Barat, sosok Cinderella digambarkan begitu menderita hingga ia bisa bahagia karena bantuan seorang peri. Maka Cinderella yang diceritakan utadz tersebut digambarkan tegar dan sangat bersabar dalam mengahadapi ujian hidupnya, hingga ia bisa hidup bahagia karena kerja keras dan doa-doanya kepada Allah SWT. Suatu hari, ia melakukan proses ta’aruf sebelum dikhitbah dan menikah dengan laki-laki yang melamarnya.

Akhirnya, setelah melewati proses ta’aruf, Pangeran dan Cinderella pun menikah. Mereka hidup di dunia dengan cinta, kasih sayang dan selalu beribadah kepada Allah SWT, jika diberi nikmat mereka bersyukur dan jika diberi musibah atau ujian mereka bersabar. Ikhlas dengan yang Allah SWT berikan pada mereka, apapun keadaannya karena merela meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan syurga kepada siapun yang berserah dalam ketaatan terhadap-Nya. Setelah Allah SWT menempatkan mereka kehidupan kekal di syurga, “ Dan akhirnya Pangeran dan Cinderella bahagia selama-lamanya,” tutup Ustadz mengakhiri ceritanya.

Tak lama setelah cerita selesai, salah seorang murid bertanya, “Wahai ustadz, kenapa akhir cerita Cinderella tidak seperti cerita yang pernah saya baca?”

Ustadz pun tersenyum kepadanya dan berkata,“Begitulah nak kehidupan. Dunia bukanlah akhir dari sebuah kisah. Maka dari itu, jika ditimpa kebahagiaan kita harus bersyukur dan jika ditimpa musibah atau ujian kita harus bersabar. Sesuatu yang membahagiakan atau sesuatu yang menyenangkan akan terasa jika kita pernah kehilanganya. Karena kebahagiaan abadi itu hanya ada di negeri syurga bukan di dunia yang hanya sementara,” tutur Ustadz.

“Kadangkala kita merasa bahwa musibah yang kita alami terlalu menghimpit rongga dada, hingga membuat kita sulit bernafas. Kehilangan harta membuat air mata mengalir deras, hingga dada terasa sesak. Atau kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau yang kita cintai menjadi beban terberat yang seakan-akan susah untuk dijalani. Hal itu terjadi, karena terkadang kita lupa bahwa inilah dunia , penuh dengan ujian, masalah, kelelahan, dan kepedihan. Beginilah dunia, persinggahan yang cepat berlalu dan takkan menetap selamanya. Hanya ada dua jalan pintas yang seharusnya ditempuh oleh seseorang yang beriman yaitu jalan sabar dan tawakal kepada Allah SWT,” ungkap Ustadz.

“Sama halnya dengan nikmat. Kadangkala nikmat itu berlalu dengan meluapkan kebahagiaan yang terlewat batas hingga lupa bersyukur, tanpa menyadari bahwa kenikmatan dan kebahagiaan itu pasti suatu saat akan hilang,” tambah Ustadz.

Dari cerita diatas, kita dapat menarik pelajaran yang berharga, bahwa kenikmatan itu baru terasa setelah melewati sebuah proses panjang untuk meraihnya. Takkan pernah seseorang itu merasakan nikmatnya kenyang sebelum ia pernah mengalami pahitnya kelaparan. Takkan pernah seseorang itu merasakan nikmatnya memiliki rezeki sebelum ia pernah alami terjerembab dalam pedihnya hutang. Takkan pernah seseorang itu merasakan nikmatnya sehat sebelum ia pernah menyelami letihnya sakit. Itulah nikmat, yang terasa ketika kita pernah terlepas darinya meskipun hanya sekejap mata.

“Ya Allah… janganlah engkau memberikan kepada hamba dari kenikmatan dunia yang terlalu banyak, agar hamba tidak melampaui batas akan larangan-Mu. Jangan pula terlalu sedikit, sehingga hamba lupa kepada-Mu. Sesungguhnya yang sedikit tetapi mencukupi, lebih baik bagi hamba dari pada yang banyak tapi melalaikan. Aamiin”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Shalat yang tak Shalat

Oleh Khusrur Rony Al Djufri Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Akan datang pada ...