Berita Islami Masa Kini

Pelajaran untuk Usamah bin Zaid

0

Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah. Penampilan luarnya begitu sederhana. Tapi, ia orang kesayangan putra orang kesayangan, seorang pemuda cerdas dan rendah hati.

Usamah memiliki seluruh sifat agung yang membuatnya dekat di hati Rasulullah. Dalam usia belum genap 20 tahun, ia telah menjadi komandan pasukan yang di antara prajuritnya terdapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Suatu hari, Usamah menerima pelajaran hidup yang mendalam dan tak terlupakan dari Rasulullah. Pelajaran itu ia pegang teguh sepanjang hayat hingga meninggal pada akhir masa kekhalifahan Mu’awiyah.

Dua tahun sebelum Rasulullah wafat, beliau mengutusnya bersama suatu rombongan untuk menghadapi kaum musyrikin. Ini adalah kali pertama bagi Usamah menjadi seorang pemimpin pasukan. Kala itu, ia meraih kemenangan gemilang.

Usamah kemudian menghadap kepada Nabi. Dengan wajah berseri, beliau memintanya untuk bercerita. Usamah pun mengisahkan jalannya pertempuran.

“Ketika kaum itu terkalahkan, aku bertemu seorang laki-laki. Aku hendak menghujamkan tombak, tetapi laki-laki itu mengucapkan syahadat. Aku tetap menusuk dan membunuhnya,” kisah Usamah.

Wajah Rasulullah kemudian tampak tidak senang. “Celakalah engkau wahai Usamah! Bagaimana nasimu kelak dengan ucapan la ilaha illallah?” Demikian kata Rasul berulang kali, hingga Usamah serasa ingin membuang semua amal yang pernah ia lakukan.

Meski lelaki yang ia bunuh itu hanya menyelamatkan diri dari kematian atau mencari kesempatan kembali melawan, ia telah tergerak mengucapkan kalimat agung itu. Darah dan hidupnya terlindungi, terlepas dari apapun isi hati dan niatnya.

Ini pelajaran yang sangat dalam bagi Usamah. Sejak itu, ia berjanji tak akan pernah lagi membunuh orang yang telah mengucapkan syahadat. Sikap itu ia pegang ketika terjadi fitnah besar antara Ali dan Mu’awiyah. Usamah berusaha bersikap netral dan berdiam diri di rumah selama pertikaian.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.