Berita Islami Masa Kini

Pergerakan Matahari dan Bulan di dalam Alquran

0

Gerhana matahari total (GMT) akan melintasi bumi Indonesia pada 9 Maret 2016 pagi. Sebelas provinsi akan dibayangi bayangan penuh umbra bulan. Durasinya sekitar dua hingga tiga menit.

Bagi umat Islam, hadirnya gerhana menjadi renungan akan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Rasulullah SAW pun telah mencontohkan untuk melaksanakan shalat gerhana selama matahari, bulan, dan bumi berada pada garis lurus tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari banyak tanda kebesaran Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan bukan karena hidup atau matinya seseorang. Karena itu, apabila kalian melihatnya (gerhana), maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, laksanakanlah shalat gerhana, dan bersedekahlah.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Alquranul karim sebenarnya sudah berbicara tentang fenomena alam semesta. Lewat Nabi yang Ummi, Allah berfirman tentang pengaturan matahari dan bulan sehingga tidak menabrak bumi.

Peredaran Matahari

Lasysyamsu tajri limustaqarrillahaa dzalika taqdirul’azizil ‘alim. “Dan matahari beredar pada garis edarnya. Itulah pengaturan (Tuhan) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yasin 38).

Dalam Tafsir Al Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menjadi bukti agar manusia mengetahui bagaimana Allah menjadikan ada bagian bumi yang diliputi kegelapan karena matahari terus menerus beredar pada garis edarnya secara teratur. Peredaran itu dimulai sejak penciptaan hingga kini. Akibatnya, terjadilah malam dan siang. Gelap dan terang. Itulah pengaturan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ada yang menarik saat Quraish Shihab menerangkan suku kata ayat tersebut. Kata tajri digunakan untuk menunjuk perjalanan sesuatu yang memiliki kaki (berlari). Kata ini digunakan juga untuk menggambarkan perpindahan satu benda dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat ketimbang benda lain yang serupa.Tajri juga digunakan untuk menunjuk perjalanan yang ditempuh dalam waktu relatif singkat.

Menurut ilmu astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex.

Ini berarti bahwa matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Manzilah Bulan

Walqamara qaddarnaahu manaazila hattaaa ‘adakal ‘urjunilqadiim. “Dan bulan, Kami menakdirkannya di manzilah-manzilah hingga kembali menjadi bagaikan tandan yang tua.” (QS Yasin 39).

Masih dalam Tafsir Al Mishbah, Quraish Shihab menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah yang Maha Perkasa menakdirkan bulan untuk memiliki manzilah-manzilah atau posisi-posisi tertentu.

Dengan demikian, manusia bisa melihat kemunculannya dari kecil/sabit. Dari malam ke malam, bulan itu membesar. Hingga mencapai purnama. Kemudian, bulan itu pun kembali mengecil hingga menjadi tandan yang tua dan layu.

Harmoni

Lasysyamsuyanbaghii lahaa antudrikal qamara wa lallaylu saa biqunnahaar. Wakullun fii falakin yas bahuun. “Matahari tidak akan dapat mendahului bulan. Dan tidak juga malam dapat mendahului siang, dan masing-masing pada garis edarnya terus menerus beredar.”(QS Yasin 40).

Usai membicarakan bulan dan matahari secara mandiri, ayat di atas memadukan dua benda langit itu. Allah seolah ingin menunjukkan betapa takdir-Nya sangat teliti dan konsisten. Kata Yanbaghi dalam ayat tersebut diambil dari kata Bagha. Artinya meminta. Quraish Shihab mengartikan ini sebagai meminta sesuatu lalu memperoleh apa yang diminta itu.

Dari makna ini, lahir pengertian dapat/mampu. Jika sesuatu tidak dapat atau tidak boleh Anda kerjakan, dapat dilukiskan dengan kalimat La Yanbaghi. Dari sini, kata yang digunakan ayat di atas berarti tidak dapat atau tidak diperkenankan Allah.

Kata Yasbahuna pada mulanya berarti mereka berenang. Alquran mengibaratkan ruang angkasa sebagai samudra yang besar. Benda-benda langit diibaratkan dengan ikan-ikan yang berenang di lautan lepas.

Matahari, bulan, bumi dan seluruh planet dalam bima sakti bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan dan arah tertentu. Matahari tidak dapat mendahului bulan karena keduanya beredar dalam suatu gerak linier yang tidak mungkin dapat bertemu. Sebagaimana malam tidak bisa mendahului siang, kecuali jika bumi berputar pada porosnya dari timur ke barat. Bukan seharusnya yakni dari barat ke timur.

Dilansir dari Harun Yahya, terdapat sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan.

Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam.[rol]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.