Berita Islami Masa Kini

Sejarah Pembangunan Monas di Lahan Bekas Koningsplein

0

Oleh: Alwi Shahab

Foto sekitar 100 tahun lalu memperlihatkan betapa sejuk, indah, dan asrinya salah satu jalan di Koningsplein (Lapangan Raja) kini menjadi Lapangan Monas (Monumen Nasional). Pohon-pohon besar dan rimbun di kedua sisi yang kini menjadi jalan protokol dan pusat kegiatan Pemda DKI Jakarta, ketika itu bernama Weltevreden (daerah lebih nyaman).

Nama Weltevreden merupakan julukan untuk daerah Gambir, Lapangan Banteng, Pasar Baru, dan sekitarnya. Diperkirakan foto ini mengabadikan Jalan Merdeka Timur karena di dekatnya (ujung jalan) terdapat Gereja Willem (Willemkerk) untuk mengabadikan Raja Willem dari Belanda. Gereja Protestan ini terletak di depan Stasiun Gambir yang diresmikan pada 1837.

Di Merdeka Timur yang kini menjadi salah satu pusat kemacetan di Jakarta, seperti terlihat di foto hampir tidak tampak kendaraan melintas. Di bagian kanan terlihat tembok-tembok yang kini seluruhnya menjadi bangunan bertingkat belasan. Kira-kira di tengahnya sekarang berdiri dengan megah Gedung Pemda DKI berlantai 30, tempat kerja gubernur Jakarta.

Lapangan Gambir, sebutan populer ketika itu, dibangun Gubernur Jenderal Marsekal Daendels (1808-1811) untuk memindahkan kota lama Batavia di sekitar kota dan Pasar Ikan karena menjadi kota yang tidak nyaman dan tidak sehat. Seperti juga sekarang yang makin banyak desakan agar Ibu Kota yang sumpek dan macet dipindahkan, Daendels ketika diangkat sebagai gubernur jenderal diperintahkan untuk memindahkan Ibu Kota dari Batavia ke Semarang atau Surabaya.

Tapi, dia memilih Weltevreden yang jaraknya sekitar 10-15 km selatan Batavia. Ada dua lapangan yang dibangun Daendels, satu lagi adalah Lapangan Banteng.

Monas Dirancang Bung Karno, Diresmikan Pak Harto

Monas yang luasnya 100 hektare atau satu juta meter persegi, sebelumnya bernama Champs de Mars. Di lapangan inilah Bung Karno membangun Monumen Nasional yang menurutnya monumen setinggi 115 meter ini akan bertahan ribuan tahun.

Bung Karno merencanakan dari monumen yang dapat menampung sejuta massa. Dia akan berpidato dalam upacara-upacara kenegaraan, seperti 17 Agustus. Tapi, Monas sendiri baru diresmikan pada masa Pak Harto.

Monas ketika masih bernama Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) menghasilkan pemain-pemain sepak bola nasional yang andal, seperti Ramang, Djamiat, Liong Houw, Maulwi Saelan, dan dilanjutkan dengan generasi Sutjipto Suntoro, Iswadi Idris, Bop Hippy, dan Rony Paslah.

Di lapangan luas ini, dulu terdapat belasan lapangan sepak bola dan sebuah lapangan hoki yang pemainnya kebanyakan keturunan India dari Pasar Baru. Di lapangan ini juga terdapat pacuan kuda sebagai warisan masa Raffles (1811-1816).

 

Pekan Raya Jakarta Pertama Kali Digelar di Gambir

Belanda juga memanfaatkan Monas dengan menyelenggarakan Pasar Gambir tiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Ratu Wilhelmina, nenek dari Ratu Beatrix.

Wilhelmina lahir pada 31 Agustus 1880 dan di hari yang sama pada 1898, dalam usia 18 tahun, dia dinobatkan sebagai ratu. Saat penobatan, di Batavia terjadi pesta besar-besaran, kantor dan sekolah diliburkan.

Pestanya pun terjadi di Koningsplein yang kemudian diteruskan dengan Pasar Gambir. Pasar Gambir berakhir ketika pendudukan Jepang (1942), dan kemudian Gubernur Ali Sadikin meneruskannya dengan Jakarta Fair. Jakarta Fair yang kini di bekas Bandara Kemayoran untuk memperingati ulang tahun Jakarta.[rol]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.