Berita Islami Masa Kini

Aturan Bertamu dan Menyambut Tamu

0

Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak dapat hidup sendirian. Ia membutuhkan pertolongan orang lain dalam menjalani dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu, ia harus bekerjasama dan membangun hubungan yang baik sebagai sesama anggota masyarakat. Dalam hubungan itulah, diperlukan jalinan silaturrahmi dan ukhuwah sesama manusia yang dapat dibentuk dengan cara saling mengenal dan saling mengunjungi untuk tercipta keakraban. Saling kunjung inilah yang disebut dengan bertamu.

Saling mengunjungi (bertamu) merupakan salah satu ajaran akhlak Islam yang sangat dianjurkan dan sangat dipuji oleh Allah swt. Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Barangsiapa yang mengunjungi saudaranya karena Allah, maka Allah Azza wa Jalla berkata, ‘kepada-Ku engkau telah berkunjung dan Aku wajibkan bagimu pahala. Aku tidak ridha memberimu ganjaran selain surga.” Begitu pula, pertemuan antara kaum mukmin akan membawa dampak positif dan nilai-nilai mulia, “Berkunjunglah kalian satu sama lain, karena sesungguhnya kunjungan kalian dapat menerangi hati kalian dan karena kunjungan tersebut hadis-hadis kami disebut, dan hadis-hadis kami disampaikan oleh sebagian kalian kepada yang lain. Maka jika kalian mengambil hadits-hadits kami, kalian akan memperoleh petunjuk dan keselamatan dan jika kalian tinggalkan, kalian akan tersesat dan binasa. Karena itu, ikutilah hadis-hadis kami dan (maka) aku mengantarkan kalian ke jalan keselamatan.” Ungkap Imam Ja’far Shadiq as.

Begitu pula, bertamu ini menjadi tradisi tahunan yang begitu meriah di hari lebaran, ketika kita kembali kepada fitrah dan kembali mudik ke rumah. Karenanya, agar dalam kegiatan saling kunjung (bertamu) ini terjaga hubungan yang tetap baik, maka diperlukan aturan-aturan atau adab-adab bagi penerima tamu (tuan rumah) dan orang yang bertamu. Diantara adab-adab dalam bertamu adalah :

  1. Berniat ikhlas kepada Allah swt untuk menyambungkan tali silaturrahmi, dan bukan untuk berbuat maksiat kepadanya. Alangkah baiknya, jika membawa oleh-oleh untuk menyenangkan tuan rumah.
  2. Memilih waktu yang tepat sehingga tidak menggangu tuan rumah. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan janji terlebih dahulu.
  3. Ucapkan salam, ketuklah pintu dan panggillah tuan rumah dengan suara yang wajar sehingga tidak mendatangkan kegaduhan. Kemudian masuklah ke rumah tuan rumah jika telah mendapatkan izinnya.
  4. Bagi laki-laki, sebaiknya jangan memasuki rumah yang hanya dihuni seorang wanita, atau pada saat suami atau saudaranya tidak berada di rumah, karena dapat menimbulkan fitnah.
  5. Duduk dan berbicaralah dengan bahasa yang sopan sesuai dengan norma-norma masyarakat yang ada.
  6. Jangan membuat tuan rumah bosan dan jenuh karena kunjungan kita yang terlalu lama, sehingga mengganggu aktivitasnya yang lain.
  7. Permisilah kepada tuan rumah jika telah selesai dan mintalah maaf kepadanya, karena mungkin kehadiran dan tingkah laku kita kurang berkenan di hatinya.

Adapun adab bagi tuan rumah yang menerima tamu adalah :

  1. Menyambut tamu dengan ikhlas, sopan dan ramah tamah.
  2. Mempersilahkannya masuk dan menempatkannya di tempat yang sesuai dan terhormat.
  3. Berilah hidangan yang dapat memuaskan tamu sesuai dengan kemampuan. Selain itu, berusahalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tamu sehingga tidak mengecewakannya.
  4. Berbicaralah dengan sopan dan muliakanlah tamu tersebut.
  5. Janganlah membuat tamu merasa kehadirannya tidak diharapkan. Untuk itu bersikaplah dengan baik, riang, dan penuh persaudaraan.
  6. Ucapkanlah terima kasih atas kunjungannya, serta mohon maaflah jika ada penyambutan yang kurang sesuai di hati tamu itu.
  7. Jika ingin pulang, maka antarkanlah tamu hingga keluar rumah atau sampai kendaraannya sebagai suatu bentuk penghormatan kita kepadanya.

Insya Allah dengan adab-adab di atas, kita akan senantiasa dapat menyambung silaturrahmi dan ukhuwah dengan saling kunjung bukan hanya secara jasadiyah, tetapi juga secara ruhaniyah. [mz]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.