Home >> Dakwah >> Bersyukur atas Mata, Telinga dan Hati

Bersyukur atas Mata, Telinga dan Hati

Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS: Al-Mulk : 23)

Sebuah pernyataan yang tak pernah kita mengetahui, jika tak kita mendahului menunduk daripada mengangkat kepala. Sebuah pertanyaan mendasar, mengapa yang pertama diberikan olehNya bukan berupa akal, fisik hingga keyakinan. Bukankah Allah berhak untuk memberikan apapun pada ciptaanNya? Kalau ingin islam jaya, Allah bisa saja memberikan ketiga hal di atas semenjak kita dilahirkan.

Inilah konsep belajar yang sudah Dia amanahkan kepada kita semenjak dilahirkan di muka bumi ini. Tak akan pernah bisa seorang bayi mengerjakan soal kalkulus, dan tak akan pernah bisa seorang anak kecil dapat membedakan yang mana kulkas dan knalpot, dia akan sama-sama memegangnya ketika penasaran. Tak mengenal itu bahaya atau bahagia.

Bayangkan saja, ketika kita dilahirkan mendapatkan cobaan tak bisa mendengar namun bisa melihat. Ia akan tau bentuknya mobil namun tak akan tau fungsinya seperti apa hingga namannya pun apa. Pun sama ketika dilahirkan tak bisa melihat namun bisa mendengar, ia akan mempunyai imajinasi bentuk gajah yang berbeda daripada orang normal lainnya. Dan ditambah hati, tempat iman bersemayam saat janji syahadat ruh kita ucapkan. Maka raga ini yang akan menjadi penentu kita berjalan di jalan-Nya ataupun sebaliknya.

Oleh karena itu, Allah mengingatkan di akhir ayat surah Al-Mulk:23 berupa teguran kepada kita “amat sedikit kamu bersyukur”. Tanpa media pembelajaran berupa mata dan telinga plus iman, kita tak akan mengenal namanya berkembang dan berfakir diri dengan keimanan akal bahwa kita diciptakan bukan menciptakan apapun. Masih ada yang berhak akan titipan raga ini yaitu Sang Pencipta yang memberikan mata, telingan dan hati.

Siklus hidup pun akan berjalan dengan teratur, seorang bayi tak akan bisa memimpin sebuah negara dan seorang presiden akan ada yang melampui dirinya di jaman kelak oleh para bayi generasi ke depan. Maha Sempurna, Allah yang mengatur sebab akibat di dunia ini dengan persentase kesalahan 0%. Dan kita mahkluk terbaik yang Ia ciptakan selama ini, maka tidak malukah kita ketika tak pernah bersyukur?

Keteraturan yang sangat teratur di mana kita hanya diminta beribadah dan bersyukur berdasarkan kepahaman (Al-Fahm) kita. Semua butuh waktu yang ditunggu dan menunggu. Mata, Telinga, dan Hati kita pun menunggu saat ia dapat berbicara di saat sekarang hanya bisa memperhatikan tindak tanduk tempat mereka bersemayam.[dt]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kajian ala Mahasiswa Gontor

Cendikiawan Prof Nurcholish Madjid (Cak Nur) sempat mengunjungi pesantren tempatnya belajar, Darussalam ...