Berita Islami Masa Kini

Cinta Terpuji dan Cinta Tercela

0

Oleh: Deni Rahman

Salah satu kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya adalah menanamkan rasa cinta. Selayaknya manusia mempergunakan rasa cinta itu untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang salah menggunakannya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah  membagi cinta menjadi dua, cinta terpuji dan cinta tercela. Menurutnya, cinta terpuji ialah:

Pertama, cinta kepada Allah. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia senang berbicara kepada Allah SWT dengan shalat dan membaca firman-Nya, dan senang mengamalkan hal-hal yang disyariatkan.

Kedua, cinta karena Allah. Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Nabi SAW menyebutkan, satu di antara tujuh golongan yang mendapat naungan di akhirat nanti adalah dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, cinta terhadap apa yang membantu ketaatan kepada Allah. Yaitu, cintanya seorang hamba dalam melaksanakan perintah Allah, menjauhi maksiat, sabar akan ujian, serta bersyukur atas nikmat.

Sedangkan cinta tercela:

Pertama, cinta kepada sesuatu bersama dengan kecintaan kepada Allah. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165).

Kedua, cinta kepada apa yang dibenci oleh Allah.Kemaksiatan dan dosa adalah hal yang Allah benci. Orang mukmin yang melakukan maksiat sesungguhnya telah membuat Allah SWT cemburu. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan, seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, cinta kepada sesuatu yang dapat memutuskan atau mengurangi cinta seseorang kepada Allah. Cinta terhadap anak, pasangan, harta, dan kedudukan adalah fitrah. Namun, hendaklah kecintaan kita kepada semuanya itu tidak menjauhkan kita dari Allah SWT.

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” ( QS at-Taubah: 24). Wallahu a’lam bish showab.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.