Home >> Muslimah >> Dua Kegembiran Mereka yang Berpuasa

Dua Kegembiran Mereka yang Berpuasa

Oleh: Yunahar Ilyas

 

JAKARTA — Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan puasanya.” (HR Bukhari Muslim)

Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang religius karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Berbuka puasa adalah momentum yang sangat efektif untuk meningkatkan kebersamaan antara sesama anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Kalau pada hari-hari biasa sangat sulit untuk mencari waktu makan bersama antara suami istri karena kesibukan masing-masing, apalagi makan bersama lengkap dengan anak-anak, dalam bulan Ramadhan ini kesempatan itu datang lebih banyak—kalau bukan setiap hari—tatkala buka puasa.

Kesempatan kebersamaan itu lebih banyak lagi, bahkan mungkin bisa setiap hari tatkala makan sahur. Kebersamaan antara seluruh anggota keluarga pada waktu berbuka dan sahur akan meningkatkan soliditas keluarga tersebut.

Begitu juga acara buka bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, seperti di masjid untuk lingkungan RT, di kantor untuk lingkungan kerja, di kampus untuk civitas akademika, di organisasi massa atau lingkungan para pejabat negara, tentu juga akan meningkatkan kebersamaan.

Kegembiraan waktu berbuka, gelak tawa, dan canda serta obrolan-obrolan ringan menjelang berbuka puasa tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan. Sekat, sumbat, dan hambatan komunikasi yang hari-hari biasa sukar dihilangkan, dalam suasana berbuka bersama akan mudah terpecahkan.

Di samping acara buka puasa bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, juga tidak sedikit para muhsinin yang menjamu orang-orang miskin dan anak-anak yatim untuk berbuka puasa bersama.

Ada yang menjamu langsung ke rumah yang bersangkutan, dan ada juga yang mengadakannya di panti-panti asuhan atau cukup mengirim paket buka puasa dalam jumlah tertentu.

Tidak sedikit juga yang di samping jamuan buka puasa, mereka membagikan tanda mata atau rupa-rupa hadiah berupa barang-barang keperluan harian, perlengkapan shalat, dan perlengkapan sekolah.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjamu dan membagi-bagikan bantuan untuk kaum yang tidak berpunya itu adalah cara menyampaikannya.

Harus diberikan dengan cara-cara yang mulia, artinya tetap memuliakan mereka yang tidak beruntung secara finansial tersebut. Jangan lagi terjadi kecerobohan dalam membagi-bagikan bantuan sehingga tidak hanya terkesan merendahkan martabat fuqara dan masakin, tapi juga dapat membahayakan nyawa mereka seperti sudah pernah terjadi beberapa kali.

Penulis terkesan pernah mendampingi wali kota dan wakil wali kota suatu kota, bersama pejabat sipil dan militer mengantarkan paket bantuan ke rumah-rumah orang-orang miskin.

Data orang-orang miskin beserta alamat mereka dikumpulkan oleh para reporter media yang biasa meliput di kantor-kantor pemerintahan setempat. Ini merupakan kerja sama yang indah dan bermanfaaat. Demikianlah sekelumit gambaran kebersamaan dalam bulan Ramadhan yang dapat meningkatkan solidaritas umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dua Prinsip Mampu Menikah

Ustaz Amir Faishol Fath menambahkan, seseorang dianggap telah mampu menikah apabila memenuhi ...