Home >> Muslimah >> Jilbab Adalah Cerminan dari Rasa Malu

Jilbab Adalah Cerminan dari Rasa Malu

Aku wanita yang sopan, karena :

1. Aku malu jika kerabat dan teman-teman putriku menceritakan diriku kepada lelaki lain yang bukan mahramku seperti saudara-saudara atau suami-suami mereka.

2. Aku malu bercumbu rayu.

3. Aku malu membuka aurat, baik kepala, leher, atau betisku. Anggota-anggota tubuh inilah yang biasa dilirik oleh mata lelaki yang berhati buaya. Kenyataan-nya sekarang wanita berjilbab dan wanita yang suka berkeliaran sama saja, karena sekarang meski memakai jilbab, beberapa bagian tubuhnya masih dapat terlihat, juga banyak yang mengenakan celana ketat yang menampakkan bentuk aurat.

Busana Muslimah yang syar’i (yang sesuai dengan tuntunan Islam) adalah yang tidak tipis, tidak memperjelas lekuk-lekuk tubuh serta menutup rapat.

Aku wanita yang memiliki sifat malu, karena :

1. Aku wanita yang sangat menginginkan kebaikan untuk diriku. Aku tidak suka orang lain menikmati suaraku, memandangi bentuk tubuhku, atau mengamati gerak-gerikku baik ia masih kerabatku atau bukan.

2. Jilbab merupakan cerminan dari sifat malu yang ada dalam diriku. Setiap orang memiliki identitas. Identitasku adalah jilbabku.

3. Jilbabku adalah sarana untuk mendapatkan kepercayaan dari saudara dan keluargaku.[1] Realita-nya bertolak belakang, akhlak yang baik tidak diperhatikan lagi, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah semata, dalam pergaulan sehari-hari pemuda dan pemudi bercampur baur di setiap tempat dan waktu, bahkan meski seorang gadis sedang berjalan bersama keluarganya (ada saja pemuda yang berani mendekatinya untuk bercakap-cakap dan lain sebagainya).

Ungkapan Wanita yang Memiliki Sifat Malu

Aku senantiasa menjaga:

* Suaraku

* Bentuk tubuhku

* Gerak-gerikku

Sekadar kata

Kami ucapkan: Selamat, engkau adalah wanita yang memiliki sifat malu.

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu untuk memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’ Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syua’aib berkata, ‘Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu’.” (QS: Al-Qashash: 25)

Amat indah ungkapan al-Qur’an ketika menjelaskan gerak-gerik putri Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, sang putri datang kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam berjalan malu-malu dengan menutupi wajahnya tanpa ada suara gelang kaki dan tidak terdegnar gerak langakahnya. Sang putri juga tidak memanggil Nabi Musa ‘alaihis salaam dari jauh dengan suara yang keras, ia datang kepadanya untuk menyampaikan pesan dari ayahnya dengan hanya mengucapkan beberapa kata, yaitu:

“Sesungguhnya bapaknya memanggil kamu untuk memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.”

Betapa indahnya andai engkau menjadi seorang putri yang santun seperti dirinya.

Menutupi aurat + sikap yang tenang + sedikit kata.

=============

[1] Dengan memakai jilbab saudara-saudara dan keluargaku akan percaya kepadaku bahwa aku adalah wanita yang baik yang dapat menjaga kehormatan diri dalam pergaulan sehari-hari. –Penerj.

=============

Sumber: Jilbabku Pesonaku, Dr. Muhammad Fahd ats-Tsuwaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dua Prinsip Mampu Menikah

Ustaz Amir Faishol Fath menambahkan, seseorang dianggap telah mampu menikah apabila memenuhi ...