Home >> Dakwah >> Membunuh Kebisuan

Membunuh Kebisuan

Kencangnya laju pesawat seakan melunturkan rasa lelahku selama berada di Negara Malaysia. Aku lelah tiga hari penuh memberikan materi seminar yang dihadiri ratusan orang, tetapi bayangan wajah sang istri dan buah hati di rumah seakan bisa menghapus kelelahan itu. Sudah hampir lima belas menit yang lalu aku berada di dalam pesawat. Menelusuri setiap butiran pengalaman pada putihnya awan pagi yang terlihat jelas dari jendela pesawat. Tak terasa tetesan air mata membasahi wajahku. Seolah aku memasuki kembali lorong waktu masa laluku.

***

Langkahku mantap dan yakin ketika awal masuk kuliah. Aku berkenalan kesana kemari dengan teman-teman baruku. Perkuliahan pun mulai membukakan tabir kesibukannya. Segala macam bentuk tugas seakan tiada henti hinggap di setiap hariku. Hampir setiap tugas aku kerjakan dengan cekatan, baik tugas kelompok ataupun individu. Semester satu aku tak menemukan kesulitan apapun terbukti dengan hasil IPK yang ku peroleh. Dengan bangganya aku menunjukkan hasil IPK sebesar 3,8 kepada bibiku. Aku dikenal sebagai cowok yang rajin, banyak cerita, berani berargumen kepada orang-orang terdekatku. Tidak kepada orang banyak.

Tak terasa kini aku telah menginjak semester 3. Selama hampir satu tahun aku kuliah di kota gudeg ini, aku belum menemukan suatu masalah berarti. Namun tidak untuk detik ini. Aku terdiam tidak bisa melontarkan pendapat di hadapan teman-teman kelasku. Semua mata seolah tertuju kepadaku, lebih lagi sorot mata pak dosen yang geram akan tingkahku. Kegugupanku sangat terlihat ketika pak dosen menyuruhku untuk menjelaskan kembali materi yang aku presentasikan dengan susunan bahasa yang baik dan benar.

“Ngomong itu yang teratur! Ga usah gemeteran gitu!! Sudah mahasiswa kok masih takut bicara! Ayo jelaskan lagi materimu! Goblok!” bentak pak dosen kepadaku. Aku hanya terhenyak mendengar perkataannya. Belum selesai menjelaskan satu slide, tiba-tiba perkuliahan ditutup oleh beliau. Seisi kelas berduyun meninggalkanku seorang diri. Seakan mereka amat jenuh dengan presentasiku, ingin segera mungkin mengakhirinya.

Sepulang kuliah aku menggaet Roy, seorang organisatoris handal sekaligus teman dekatku. Salah satu lelaki idaman para wanita di jurusan Psikologi ini. Aku menarik lengannya dan mengajak dia untuk mendengarkan keluh kesahku.

“Ada apa dan?” tanya Roy.

“Kamu lihatkan tadi ketika aku presentasi? Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Suparjo dan teman-teman, aku malu Roy!

“Di luar kelas bacot lo seabrek!, giliran disuruh ngomong di depan orang banyak nyali lo langsung nyiut! Makanya jangan suka ngandelin temen kalau presentasi, kebiasaan sih dari semester satu!” ucap Roy dengan mimik serius seakan amat puas memberi kritikan kepadaku. Kemudian Roy pergi meninggalkanku begitu saja. Tanpa memberikan solusi apapun, padahal aku sangat mengharapkan petuah-petuahnya sebagai seorang ketua bem prodi psikologi kampus ini.

Berulang kali aku menghela nafas. Seakan ada berban berat yang mengganjal jiwaku. Lagi-lagi aku menyalahkan pengalaman buruk itu. Kisah tragis yang seharusnya haram bagiku untuk mengingatnya lagi. “Shitt! Semua ini karena lelaki tak tau diri itu!”, andai saja lelaki itu tidak membentakku ketika masa kecil mungkin aku tidak punya rasa minder untuk berbicara di depan orang banyak.

Ya, lelaki itu tak lain adalah ayah kandungku. Seorang yang sangat rajin memukul, menyalahi setiap perkataanku ketika aku kecil. Karena hal itulah aku menjadi takut dan ragu untuk bicara, terlebih di depan publik. Seakan mata para pendengar yang memandangiku siap untuk membunuh setiap perkataan yang aku ucapkan. Nyaliku mengecil tak berdaya, mulutku bisu tak sanggup mengeluarkan rangkaian kata yang terpendam dalam otak. Ibu yang hanya sanggup menangis dan sesekali memarahi ayah dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Ia terkena penyakit stroke, sebuah penyakit yang mengantarkan kepada perceraian ayah dan ibu.

Biarlah kenangan pahit itu terkubur dalam-dalam, sedalam jurang yang menewaskan ayah beserta mobil mewahnya dan sedalam cintaku kepada almarhumah ibu yang telah berjuang melawan penyakitnya.

Mulai hari ini aku akan belajar berbicara dengan baik di depan teman-teman dan dosen pengajar. Aku tidak boleh larut dalam kenangan pahit itu. Aku harus bangkit. Kesana kemari aku mencari Roy, sekedar ingin sharing bagaimana cara berbicara di depan publik dengan baik. Tapi aku tak menemukannya, mungkin dia sedang rapat batinku.

“Pukul 10.00 kita ada kuliah psikologi industri bersama Bu Fita ya teman-teman”. Aku kirim jarkoman tersebut ke grup whatssapp kelas. Ini Kali pertamanya aku menjadi seorang penanggung jawab mata kuliah.

“Siapa PJ nya?!” bentak Bu Fita yang baru saja masuk kelas dan belum mengucapkan salam sama sekali.

“Sa..sa..saya bu, Dani”

“Lain kali kalau sama dosen itu yang sopan! Belajar kesopanan dalam berkomunikasi! Kamu kan bisa nemuin saya, jangan hanya sms aja! Kemaren kamu minta ada kuliah, saya udah jauh-jauh pergi ke kampus ehh.. dengan seenaknya kamu ngebatalin sendiri!”

“Maaf bu.. kemaren jam kuliahnya Bu Ningsih molor, jadi terpaksa kuliah ibu dicancel. Saya juga sudah memberi kabar lewat sms, sebelum jam mengajar ibu di kelas ini ” jawabku dengan suara bergetar.

“Tapi seharusnya kamu nemuin saya dulu, ngomong baik-baik, jangan hanya mengandalkan komunikasi lewat sms saja!”

Lagi-lagi aku mendapatkan masalah dalam berkomunikasi. Tetapi yang ini lebih berat, karena menyinggung masalah kesopanan.

Kali ini di saat teman-temanku sudah pergi meninggalkan kampus, justru aku menyibukkan diri di perpustakaan. Aku baca semua buku mengenai cara berkomunikasi yang baik dan benar. Setiap kalimat aku telaah, sesekali aku catat dalam buku kecil.

Tetapi bukan karena alasan itu saja aku pergi ke perpus. Dia yang membuatku ingin terus mengunjungi ruangan penuh buku ini. Dia adalah seorang gadis yang selalu melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan suara lirih di pojok bagian perpustakaan. Hampir setiap hari kujumpainya, namun aku belum juga mengenalnya.

Sudah hampir sebulan aku tak melihat gadis itu lagi. Kutengok di setiap sudut perpustakaan, namun aku tak menemukannya. Ke mana perginya gadis itu batinku. Aku jadi tak bersemangat lagi untuk mendatangi perpustakaan ini, aku mencoba duduk di tempat yang biasa gadis itu melantunkan ayat suci Alquran. Entah mengapa bayangan wajahnya selalu datang dalam hari-hariku. Aku harus kenal gadis itu.

Pagi ini aku ada ujian tengah semester, tapi dalam bentuk lisan. Semua materi kuliah sudah aku pelajari dengan sungguh-sungguh. Tinggal berdoa saja semoga diberi kemudahan. Namun aku terhentak kaget ketika mengetahui ujian lisannya bukan dihadapan dosen saja melainkan beserta seluruh anak jurusan psikologi angkatanku.

Nama demi nama dipanggil maju, untuk menjawab satu pertanyaan yang dilontarkan oleh pak dosen dalam waktu 5 menit. Hatiku semakin berdebar ketika nama yang dipanggil sudah memasuki huruf D. “Dafid” ucap pak dosen. Lima menit berlalu, Dafid menjawab dengan sangat lancar dan tenang. Kini giliranku, “Dani.” Panggil pak dosen seraya melirik ke arah wajahku.

“Berikan solusimu untuk memperbaiki psikologi anak hasil perceraian orang tua?” tanya pak dosen dengan gaya busananya yang nyentrik. Sebelum aku menjawab pertanyaan tersebut, kutarik nafas dalam-dalam. Sekedar ingin mengumpulkan seluruh energi positif agar apa yang kujelaskan bisa menjadi jawaban yang pas bagi dosen dan seluruh teman-temanku.

Alhamdulillah, tepuk tangan teman-teman berhamburan ketika aku selesai menjawab pertanyaan tersebut. Tak sia-sia aku belajar berbicara di depan cermin seorang diri tanpa ada yang memperhatikan. Tak sia-sia pula aku rela hujan-hujanan untuk belajar public speaking dalam komunitas ekstra kampus. Semua terbayar sudah lelahku selama tiga bulan ini.

Kali ini aku mulai mengikuti organisasi intra kampus. Roy lah yang memperkenalkan aku pada teman-teman BEMnya. Dia yang mengajukan namaku untuk menggantikan salah satu anggota BEM yang keluar dari kepengurusan tahun ini. Aku mengiyakan permintaan Roy, dia mengimingiku jika aku menjadi anggota BEM maka kelancaranku dalam berbicara di depan umum akan semakin baik.

Ternyata menjadi seorang organisatoris tak semudah bayanganku, aku kira kerjaan mereka hanya mempublikasikan kemudian mengadakan acara. Ternyata di balik semua itu harus ada rapat yang menghabiskan banyak waktu. Namun aku yakin semua kegiatan ini bersifat positif untuk aku ke depannya. Ini akan menjadi bekalku kelak ketika sudah terjun di masyarakat.

Aku semakin semangat berorganisasi tanpa melupakan kewajibanku sebagai mahasiswa. Hampir semua mahasiswa kampus ini mengenalku, karena di setiap diadakannya acara bem akulah yang bertanggung jawab untuk mempublikasikannya. Setiap kelas aku masuki satu persatu, sekedar ingin mempublikasikan suatu event yang diadakan oleh bem. Kali ini aku sudah terbiasa berbicara di depan publik. Tak hanya bicara saja namun bicara dengan cara yang sopan.

***

Tak terasa kini aku telah menginjak semester tujuh, segala persiapan skripsi sudah aku rancang dengan matang. Segala bentuk kegiatan organisasi aku lepaskan dahulu. Semua teman-temanku seperti sedang berlomba menaiki puncak tertinggi dari sebuah gunung. Mereka seoalah tak ingin menjadi mahasiswa abadi. Wisuda, sekelumit kata yang membangkitkan gelora semangat mahasiswa tingkat akhir.

Di tengah kesibukanku mengerjakan skripsi, tiba-tiba aku diundang oleh anak BEM untuk menghadiri seminar dengan judul “Membumikan Alquran” . Kubuka surat undangan tersebut, kubaca kata per kata. Hingga sampailah pada suatu kalimat yang intinya memintaku untuk menjadi moderator dalam acara tersebut.

Tiba-tiba aku teringat nasehat almarhumah ibu. Sewaktu ibu masih sehat, ia pernah mengajariku mengaji dengan makhraj dan tajwid yang baik dan benar. Ia sering mengingatkanku agar jangan sampai meninggalkan Alquran. “Alquran adalah pedoman hidup kamu nak, jika kamu tak memiliki pedoman maka hidupmu tak akan memiliki arah.” Ucap almarhumah ibu dengan mengelus rambutku.

Segera aku mengambil ponsel untuk memberikan konfirmasi kepada anak BEM atas kesanggupanku menjadi moderator dalam acara tersebut. Seperti ada magnet tersendiri yang mendorongku untuk mengikuti seminar ini.

Ini kali pertamanya aku menjadi moderator dalam suatu acara besar. Aku mempersiapkannya dengan matang dengan membaca berbagai buku mengenai Alquran dari berbagai sudut pandang hingga berbicara sendiri layaknya moderator di dalam sunyinya kamar.

Hari yang dinanti pun tiba. Aku berpakian sangat rapih dengan jas hitam yamg menambah kegagahanku di depan para audience. Satu persatu susunan acara terlewati, hingga sampailah pada acara inti. Hatiku berdebar tak karuan ketika aku diminta oleh pembawa acara untuk menaiki panggung. Aku menaiki panggung dengan sangat percaya diri. Kemudian memberikan senyuman hangat kepada para penonton yang hadir.

Kini giliranku membawakan acara, ada tiga narasumber yang akan memberikan materi. Satu persatu nama kusebut hingga sampailah pada nama terakhir yang membuat hormon adrenalinku meningkat ketika melihat sosok gadis yang naik ke atas panggung. Hatiku berdesir mengamati setiap sudut wajahnya. Tepuk tangan penonton yang amat keras segera memecahkan lamunanku.

Seminarpun berjalan dengan lancar. Terlihat dari antusias para penonton yang banyak mengajukan berbagai pertanyaan. Aku tersenyum tiada henti sepulang dari acara tersebut. Kini aku telah mengetahui nama gadis tersebut. Seorang gadis yang dulu membuatku semangat untuk mengunjungi perpustakaan. Ternyata dia mendapatkan beasiswa di Yaman, oleh karena itu dia pindah kuliah sejak dua tahun yang lalu. Umurnya setara denganku tetapi dia sudah lulus S1 dan berencana untuk melanjutkan S2 nya setelah mengabdi selama satu tahun pada pondoknya.

***

Kini aku telah lulus menjadi sarjana. Akhirnya perjuanganku selama empat tahun terakhir ini terbalaskan sudah. Seminggu setelah wisuda aku harus meninggalkan Indonesia. Aku diberi kesempatan oleh pamanku untuk melanjutkan S2 ke Perancis. Sebelumnya sudah terhitung hampir sekitar 40 aplikan aku ajukan untuk mengikuti beasiswa S2 ke luar negeri. Namun semuanya gagal, aku sempat putus asa dan frustasi. Mengapa dengan IP yang tinggi serta berbagai pengalaman organisasiku tak juga cukup untuk melumpuhkan hati para pemberi beasiswa.

Ternyata Allah memiliki cara yang lebih indah dari itu, aku dipertemukan kembali oleh Paman Rudi. Dia adalah adik kandung dari almarhum ayah. Aku bertemu dengannya di suatu tempat makan yang amat tersohor di Jogja. Hanya dengan hitungan menit setelah aku menceritakan keluh kesah mengenai kegagalanku mengajukan beasiswa luar negeri, ia langsung menawariku untuk melanjutkan S2 ke Perancis. Ia memiliki banyak teman di sana. Aku langsung menerima tawaran tersebut. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh dalam belajar di Perancis. Ia hanya tersenyum, dan membisikkanku “ini adalah wasiat ayahmu nak.” Tetesan air mata segera membasahi pipiku. Ternyata almarhum ayah tak sejahat yang aku pikirkan. Ia masih memikirkan masa depanku, aku salah menilainya. Seketika itu aku mengiriminya al-fatihah dengan tulus.

***

“Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Jakarta, kita telah mendarat di Bandar Udara internasional SOEKARNO-HATTA….”

Suara pramugari itu membangunkan lamunanku yang panjang. Istri dan anak sudah menungguku sekitar satu jam lamanya. Aku segera memeluknya dan mencium anak yang berada dalam gendongannya. Ia tak lain adalah “Mahfudatul Ameera”. Seorang wanita yang amat kucintai, yang selalu memberikanku semangat untuk menjadi seorang yang lebih baik. Dialah aktor di balik kesuksesanku selama ini. Seorang gadis penghafal Alquran yang pernah singgah untuk membangkitkan semangatku mengunjungi perpustakaan kampus.

Kini aku telah berhasil menghancurkan tembok keminderanku dalam berbicara di depan publik. Hampir setiap hari aku diundang untuk menjadi pembicara dalam berbagai seminar mengenai public speaking. Tak ada usaha yang sia-sia jika kamu ingin berubah lebih baik. Tuhan tak akan diam saja dengan segala usaha kerasmu. [dt]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kajian ala Mahasiswa Gontor

Cendikiawan Prof Nurcholish Madjid (Cak Nur) sempat mengunjungi pesantren tempatnya belajar, Darussalam ...