Home >> Kisah >> ODOJ Membawaku Mengenal Indonesia Lebih Dekat

ODOJ Membawaku Mengenal Indonesia Lebih Dekat

Januari 2014 aku bergabung dengan ODOJ. Bukan tanpa alasan aku bergabung dengan grup ini. Alasan pertama aku bergabung dengan grup ini adalah aku ingin mengobati rasa sakit hati yang amat terdalam karena salah satu keluargaku meninggal dan aku mengundurkan diri dari tempat kerjaku. Jika hati yang sakit bukankah obatnya adalah membaca Alquran? Alasan kedua aku gabung dengan grup ini adalah aku ingin memiliki amalan yang dapat kuhadiahkan untuk keluarga yang telah meninggal dan mengisi banyak waktu kosong karena aku tidak bekerja lagi. Alasan ketiga aku gabung di grup ini adalah aku ingin sekali seperti mereka yang memiliki perjalanan hidup yang istimewa. Merekalah orang-orang yang menjadikan tilawah Alquran menjadi amalan kesehariannya.

Tergabung di grup 1120 bersama dengan orang-orang yang tidak saling kenal sebelumnya, dan tidak pernah bertatap wajah tapi terasa begitu dekat seperti saudara karib. Mungkin karena berkah doa khatam Alquran yang sama-sama kami aminkan setiap malam. Digrup ini aku bergabung dengan teman-teman yang domisilinya kebanyakan dari pulau Jawa, dan beberapa dari mereka ada yang sedang belajar dan bekerja di luar negeri. Betapa terkagum-kagumnya aku saat berkenalan dengan mereka. Mereka yang memiliki pekerjaan yang bergengsi (menurut kebanyakan manusia) di dunia ini tapi masih tetap istiqomah untuk beribadah. “Allah…. Terima kasih engkau kenalkan aku dengan teman-teman digrup ini” ucapku dalam hati.

Dua bulan bergabung di ODOJ keistimewaan dan ujian terhadap keistiqomahan ini pun di uji. Keistimewaannya adalah bahwa aku diterima mengajar dibeberapa sekolah ternama di Medan. Jelas sudah ujiannya adalah bahwa aku mulai kewalahan untuk kholas tilawah sebelum jam 18.00 Wib, karena waktu mengajarku dimulai pukul 07.00-16.00 Wib. Terkadang paling cepat sampai rumah pukul lima sore. Satu bulan aku kewalahan mengatur waktu untuk kholas sebelum jam enam sore. Beruntunglah aku mengikuti pengajian rutin ODOJ yang diadakan setiap sebulan sekali. Saat itu tema pengajiannya adalah “ keajaiban membaca Alquran 1 juz dari waktu subuh – waktu duha”. Pengajian ini mengobak-abik perasaanku, memompa semangat tilawahku lagi, bagaimana tidak salah seorang ustadz yang menjadi nara sumber saat itu begitu memikat hatiku dengan kisah-kisah ajaib yang dialaminya. Ustadz tersebut berkata pada kami “ saat ini saya telah merasakan keajaiban-keajaiban dari tilawah 1 juz sebelum waktu dhuha selesai, maka sekarang giliran anda yang harus merasakan keajaiban itu. Lakukanlah dan istiqomahlah!”. Sepulang dari pengajian itu aku bertekad dalam hati untuk berusaha kholas sebelum jam sembilan pagi, aku ingin merasakan suatu keajaiban yang terjadi dalam hidupku.

Pertengahan April 2014 ada adik kelas sewaktu sekolah dulu yang memasang foto profil facebooknya dengan gambar informasi open rekrutmen Sekolah Guru Indonesia (SGI) angkatan VII. Aku banyak bertanya padanya tentang SGI. Sekolah Guru Indonesia adalah salah satu program dari Dompet Dhuafa yang mengajak para sarjana muda (maksimal usia 25 tahun) untuk mendedikasikan 1,5 tahun hidupnya menjadi guru di daerah terpencil diseluruh wilayah Indonesia. Seleksi terbuka untuk umum dan hanya 30 orang yang akan dipilih dari seluruh Indonesia setelah mengikuti berbagai tes. Aku sangat tertarik sekali ingin mengikuti program ini. Inilah mimpiku bisa berkelana mengelilingi Indonesia bukan sekadar untuk jalan-jalan atau belanja saja. Maka setiap kali aku khatam 1 juz, aku khususkan niat agar Allah melunakkan hati ayah dan ibuku untuk mengizinkanku ikut SGI. Aku mendapatkan info tentang SGI dan orang tua ku mengizinkanku untuk ikut SGI. Inilah keajaiban kecil yang aku rasakan setelah aku berazzam untuk kholas 1 juz sebelum waktu dhuha selesai.

Awal Mei 2014 aku bertemu dengan salah satu teman ODOJ, Mba Yush aku biasa menyapanya di grup facebook kami. Mba Yush sedang mengikuti studi S2 di Brunei Darussalam, dalam beberapa bulan sekali dia ke Indonesia. Berhubung bulan ini dia ke Medan dia mengajakku ketemuan. Dengan senang hati aku menyetujui hari, jam dan tempat ketemuan yang dirancangnya. Bertemu dengan Mba Yush seolah bertemu bidadari. Keramahannya, senyumannya, wawasannya dan kisah hidupnya membuatku senantiasa berucap syukur karena Allah menakdirkan aku bersahabat dengannya. Aku kabarkan padanya tentang niatku untuk mengikuti SGI dengan semangat dia mendukungku, dia katakan “semakin banyak daaerah yang kita kunjungi, semakin banyak kita belajar dan semakin besar rasa syukur yang kita rasakan atas segala nikmat yang Allah berikan”.

Akhir Juli 2014 menjelang minggu akhir Ramadhan aku mendapat sebuah sms yang membuatku seketika menjadi gila karena kegirangan. SMS yang berisi kelulusanu menjadi Relawan SGI angkatan VII. “ Perjalanan ajaib akan segera dimulai, terimakasih ya Allah” teriakku dalam hati. Satu tahun masa pengabdian di daerah terpencil dan 5 bulan masa pendidikan di Bogor. Pertengahan Agustus 2014 aku berangkat ke Bogor untuk mengikuti masa pendidikan sebelum nantinya ditempatkan disdaerah terpencil. Saat di Bogor ini aku ingin bersilaturrahmi ke rumah teman-teman ODOJ di sekitar Jabodetabek. Tapi apalah daya waktu tidak bersahabat baik denganku. Selama masa pendidikan tidak ada waktu yang kosong dengan percuma, bisa kholas tepat waktu saja itu sudah sangat spesial bagiku. Maka niat untuk silaturahim dengan berat hati aku urungkan. Saat masa pendidikan ini kecintaanku pada Tanah air semakin menjadi-jadi. Rasa cinta yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. jangan tanyakan apa yang telah negara berikan untukmu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan untuk negaramu?” kalimat yang berhasil menumbuhkan rasa cinta yang teramat dalam untuk negeri ini.

Sekarang saat aku menulis kisah ini aku sudah menjadi relawan SGI angkatan VII penempatan Kabupaten Pandeglang –Banten. Aku ditempatkan di MIS Miftahul Huda Kampung Tagelan Desa Cijalarang Kec. Cimanggu Kabupaten Pandeglang-Banten. Tepat sudah tiga bulan aku berada di kampung ini. Melalui SGI ini aku rasakan tulusnya kebaikan-kebaikan teman-teman ODOJ. Beberapa di antara mereka ada yang menjadi donator untuk programku selama di penempatan padahal kami belum pernah saling bertatap wajah. Tapi dengan mudahnya mereka mempercayaiku dengan amanah yang mereka berikan. Lagi-lagi “ nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?”. Ingin menangis rasanya ketika aku menceritakan tentang kondisi anak-anak di tempat pengabdianku dan teman-teman ODOJ langsung antusias ingin membantu. Beberapa minggu yang lalu bahkan ada teman ODOJ dari Depok yang mengunjungiku di kampung ini. Perjalanan Depok menuju kampung ini bukanlah singkat dan mudah, buktinya mereka habiskan waktu lebih kurang 9 jam dengan kondisi jalan yang tidak semulus jalan di kota. ODOJ menyadarkanku bahwa masih banyak orang-orang Indonesia yang berhati tulus, orang-orang yang turut membantu membangun negeri ini dengan caranya masing-masing. Seperti doa khatam Alquran yang selalu kami aminkan setiap malam “Ya Allah… jadikan negera kami menjadi baldatun toyyibah”. Inilah kisahku bahwa nyatanya ODOj membawaku mengenal Indonesia lebih dekat, bukan hanya mengenal daerah-daerahnya tapi juga mengenal kebaikan-kebaikan orang-orangnya untuk Indonesia yang lebih baik.[dt]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pria Berkursi Roda Ini dianggap Pengemis, Ternyata Dia Adalah…

Ada kisah menarik terjadi di Masjid Tun Abdul Aziz atau biasa disebut ...