Berita Islami Masa Kini

Wanita Menjadi Imam Bagi Jamaah Wanita

0
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Apakah wanita boleh untuk menjadi imam untuk jamaah wanita lainnya?

Wassalam

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam masalah wanita mengimami jama’ah wanita, ulama fiqih berbeda pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ulama memandang hukumnya sunnah, sebagian yang lain memandang hal itu makruh, dan sebagian mereka menganggapnya tidak boleh, bahkan shalat yang diimami seorang wanita itu menurut mereka harus diulang. Berikut pemaparannya:

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :

ولا تؤم الرجال وتكره جماعتهن

Seorang wanita tidaklah menjadi imam bagi laki-laki, dan dimakruhkan pula shalat berjama’ah bagi para wanita.[1]

Badruddin Al-Aini (w. 855 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah, dalam bab imam wanita bagi jama’ah wanita dalam shalat berjam’ah, beliau menuliskan sebagai berikut :

(فيكره) ش: يعني إذا كان الأمر كذلك يكره فعلهن الجماعة

Maka makruh hukumnya, jika seorang wanita mengimami jama’ah wanita. Begitu juga shalat berjama’ah bagi para wanita, makruh hukumnya.[2]

Ibnu Abdin (w. 1252 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar menuliskan sebagai berikut :

ولا تؤم الرجل، وتكره جماعتهن ويقف الإمام وسطهن

Tidaklah seorang wanita mengimami laki-laki, dan makruh jika dia menjadi imam bagi jama’ah wanita, kalaupun dia menjadi imam, maka posisinya berada ditengah mereka.[3]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Abu At-Thahir At-Tanwikhi Al-Mahdawi (w. 536 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitabAt-Tanbih ’ala Mabadi Taujih menuliskan sebagai berikut :

وهل تصح إمامتها للنساء؟ قولان: المشهور عدم الصحة طرداً للحكم الكلي، وروى ابن أيمن عن مالك أنها تؤم النساء. وهذا لأنه عول على أن المنع من كون صوتها عورة، وهو مفقود هاهنا.

Apakah sah shalat jama’ah wanita yang diimami wanita? Dalam masalah ini ada dua pendapat (dalam madzhab). Pendapat yang terkenal adalah tidak sah secara umum. Dan Ibnu Aiman meriwayatkan dari Malik, bahwasanya seorang wanita itu boleh meimami jama’ah wanita, dengan alasan yang melarang seorang perempuan menjadi imam bagi jama’ah laki-laki itu, karena suaranya aurat (bagi mereka), sedangkan bagi jama’ah wanita, tidak demikian.[4]

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

الشرط الثالث الذكورة قال في الكتاب لا تؤم المرأة قال صاحب الطراز المشهور حمله على العموم في الفرض والنفل للرجال والنساء. وعن مالك الإعادة أبدا

Syarat ketiga untuk menjadi imam adalah laki-laki. Di dalam kitab Al-Mudawwanah, imam malik mengatakan: Tidaklah seorang wanita menjadi imam. Shahib Ath-Tharraz mengatakan: yang masyhur (terkenal dalam madzhab), larangan ini, sifatnya umum, baik dalam shalat wajib, maupun shalat sunnah, bagi jama’ah laki-laki, mupun jama’ah wanita. Dan dari riwayat dari imam Malik menyatakan bahwa shalatnya harus diulang.[5]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Al-Minhaj Al-Qawim menuliskan sebagai berikut :

وروى ابن ماجه: “لا تؤمن المرأة رجلا” بخلاف اقتداء المرأة بالمرأة وبالخنثى وبالرجل واقتداء الخنثى أو الرجل بالرجل فيصح إذ لا محذور.

Ibnu Majah meriwayatkan : ‘Janganlah wanita mengimami laki-laki, lain halnya jika wanita berimam kepada wanita, atau kepada khuntsa atau kepada laki-laki…sah shalatnya.[6]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

وتصح قدوة المرأة بالمرأة وبالخنثى كما تصح قدوة الرجل وغيره بالرجل فيتلخص من ذلك تسع صور خمسةٌ صحيحةٌ، وهي قدوة رجل برجل، خنثى برجل، امرأة برجل، امرأة بخنثى، امرأة بامرأة.

Wanita yang berimam kepada wanita atau khuntsa sah shalatnya sebagaimana sahnya seorang lelaki kepada lelaki lain. Maka bisa disimpulkan ada sembilan macam bentuk jamaah, lima diantaranya boleh dikerjakan yaitu ; laki-laki bermakmum kepada laki-laki, khuntsa bermakmum kepada laki-laki, wanita bermakmum kepada laki-laki, wanita bermakmum kepada khuntsa, wanita bermakmum kepada wanita.[7]

Al-Mawardi (w. 450 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir menuliskan sebagai berikut :

فمذهب الشافعي أنه يستحب لها أن تؤم النساء فرضا ونفلا

Bagi Madzhab Asy-Syafi’i, bahwasanya disunnahkan bagi wanita mengimami jama’ah wanita dalam shalat wajib dan shalat sunnah.[8]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Kafi fil Fiqh Imam Ahmad menuliskan sebagai berikut :

المرأة يجوز أن تؤم النساء لما تقدم، ولا يجوز أن تؤم رجلًا، ولا خنثى مشكلًا، في فرض ولا صلاة نفل.

Dibolehkan bagi wanita mengimami wanita, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya,baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah, tapi tidak untuk mengimami laki-laki atau khunsa (yang berkelamin ganda).[9]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

إن إمامة المرأة بالمرأة صحيحة

Boleh bagi wanita menjadi imam bagi wanita.[10]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsarmenuliskan sebagai berikut :

فإن صلين جماعة، وأمتهن امرأة منهن فحسن؛ لأنه لم يأت نص يمنعهن من ذلك

Jika para wanita shalat berjama’ah, diimami seorang wanita, yang demikian itu hasan (baik), karena tidak ada dalil yang melarangan hal tersebut.[11] [Isnawati/rumahfiqih]

Wallahu’alam.

[1] Az-Zaila’i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal 118.

[2] Badruddin Al-Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 2 hal 336.

[3] Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal 504.

[4] Abu At-Thahir At-Tanwikhi Al-Mahdawi, At-Tanbih ‘ala Mabadi At-Taujih jilid 1 hal 441.

[5] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal 241.

[6] Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim, jilid 1, hal 152.

[7] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 , hal 482.

[8] Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 2 hal 356.

[9] Ibnu Qudamah, Al-Kafi fil Fiqh Al-Imam Ahmad, jilid 1 hal 294.

[10] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 2 hal 265.

[11] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal 167.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.